Page 45 - Masa-il-Diniyyah-Buku-Pertama_Dr.-H.-Kholilurrohman-MA
P. 45

atau  dalil  naqli,  dimana  dalil  aqli  tersebut  sebagai  sesuatu  yang
               qath’i dan dalil naqli-nya sebagai sesuatu yang tsabit. Pemaknaan
               lafazh-lafazh  dengan  makna  majazi  secara  sembarangan  adalah
               tindakan  mengacaukan  ('abats)  teks-teks  syari’at  sebagaimana
               dijelaskan  oleh  para  ulama  ushul  fiqh,  dari  kalangan  ulama
               madzhab Syafi’i, Hanafi dan lainnya.

                     Kemudian  memaknai  [سيَ]  dalam  hadits  di  atas  dengan
               “bersetubuh”  adalah  pemahaman  yang  bertentangan  dengan
                                                                              35
               hadits  shahih  lainnya  seperti  sebuah  hadits  riwayat  Muslim

               bahwa Rasulullah bersabda:

                                                                  "  شطبلا اهانز دِلاو  "



               Maknanya: "Dan tangan perbuatan zinanya adalah al-bathsy".

                                                                     36
                     Pengertian al-Bathsy dalam bahasa arab ada dua ; al-Bathsy
               bisa  berarti  memegang  dengan  kuat,  dan  al-Bathsy  bisa  berarti

               menyentuh. Makna [سيَ] di atas adalah dalam pengertian kedua,

               maksudnya  perbuatan  zina  tangan  adalah  menyentuh  dengan
               tangan dengan cara berjabat tangan atau menyentuh bagian badan
               perempuan  ajnabiyyah  lainnya  dengan  syahwat,  atau  tanpa
               syahwat dengan tanpa penghalang. Kalau umpama tidak ada nash
               lain, kecuali satu hadits ini, maka inipun cukup untuk menjelaskan



                      35  Shahih Muslim: Kitab al-Qadar.
                      36  Lihat al-Misbah al-Munir karya al-Fayyumi (h. 51)

                                               41
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50