Page 21 - hujan
P. 21
menyembur dari roda baja. Tersentak, tidak mampu menahan keseimbangan di
atas rel, dua belas kapsulnya saling bertabrakan, terbanting meng hantam
dinding lorong.
Sepersekian detik, penumpang telah terpelanting ke depan, rebah rempah,
berseru-seru panik, berteriak-teriak ngeri.
Tapi kengerian itu baru dimulai. Lima belas detik masih da lam situasi panik,
lampu kereta mendadak padam, juga lampu pe nerangan di lorong kereta.
Jaringan listrik terputus. Padam. Kapsul kereta gelap total. Penumpang semakin
tidak ter kendali, berseru-seru, saling menyikut, berusaha berdiri. Baru setengah
badan mereka berdiri, lantai kapsul bergetar hebat, se perti sedang tidak berada
di atas tanah solid, melainkan di atas permukaan air, diaduk-aduk. Kapsul-
kapsul bergerak mengeluar kan suara berderit, seperti kaleng besar, mulai
menggelinding.
Penumpang menjerit ketakutan.
Ibu Lail beranjak, berusaha mencari putrinya. Dengan wajah pucat Lail
terduduk di pojok kapsul. Dia tadi terpelanting jauh, menimpa tubuh pe-
numpang lain. Isi gelas cokelat panasnya berhamburan. ”Apa yang sedang
terjadi?” Lail mendongak, juga berusaha mencari ibunya.
”Apa yang terjadi?” Penumpang lain ikut bertanya-tanya.
Penumpang di dalam sistem kereta bawah tanah memang tidak mendengar
dentuman keras gunung itu. Mereka ada di ke dalaman 40 meter. Hanya
penduduk di permukaan yang men dengarnya. Pukul 08.15, gunung purba di
belahan benua lain meletus. Suara letusannya terdengar hingga 10.000 kilometer
—saking kerasnya, praktis penduduk radius 200 kilometer dari gunung itu
langsung tuli seketika sebelum tahu apa yang terjadi. Mereka juga belum
menyadari ketulian masing-masing saat satu detik kemudian abu, material
vulkanik dengan suhu ribu an Celsius, menyembur setinggi 80 kilometer, lantas
ber gulung me nyebar ke bawah, menyapu bersih seluruh kehidupan radius 200
kilometer hanya dalam hitungan menit. Tidak ber sisa, hangus dipanggang suhu
setinggi 5.000 derajat Celsius. Abu vulkanik yang berbentuk cendawan hitam