Page 236 - BUKU SEABAD RAKYAT INDONESIA BERPARLEMEN
P. 236

DPR-RI MASA ORDE BARU: MENGUATNYA PERAN NEGARA
                                                                                                         (1967-1998)





                  Pemilu 1992 juga menampilkan hal baru. Kali ini pemerintah mewajib-
                  kan calon anggota DPR menjalani penelitian khusus (litsus) untuk men-
                  dapatkan surat keterangan tidak terlibat organisasi terlarang (SKTT).
                  Setelah hasilnya diproses, akan keluar rekomendasi dari Bakorstanas
                  kepada kepolisian. Berdasarkan rekomendasi itu, polisi akan memberi-
                  kan surat keterangan tidak tersangkut (SKTT) kepada para calon ang-
                  gota DPR/MPR tersebut.


                  Tak kalah menariknya dari periode ini adalah, atas usulan Fraksi ABRI
                  sendiri, terjadi pengurangan anggota DPR-RI yang diangkat dari ABRI.
                  Dari 100 orang menjadi 75. Sejak 1990-an memang terjadi gerakan re-
                  formasi  internal  ABRI.  Gerakan  ini  juga  disebut  gerakan  kembali  ke
                  barak  atau  gerakan  perubahan  ABRI  menja-
                  di tentara profesional, dan pengembalian Polisi
                  menjadi  lembaga  keamanan  sipil.  Gerakan  ini
                  diinisiasi para jenderal intelektual di tubuh ABRI.    Kehadiran ABRI dalam
                  Rumusan akhir RUU yang mengatur jumlah ang-
                  gota ABRI di DPR disetujui fraksi-fraksi di Komisi     badan legislatif tidak
                  II DPR.                                                hanya mewakili ABRI,


                  Padahal pada 1992, ketika para akademisi Indo-         tetapi juga untuk
                  nesia mulai membicarakan untuk memperkecil             melaksanakan tugas
                  jumlah  anggota  ABRI  di  DPR,  Soeharto  mem-
                  beri reaksi keras. Tidak mungkin, katanya, bagi        yang dipercayakan
                  ABRI  untuk  melepas  peranan  politiknya  dan         kepada ABRI oleh
                  semata-mata  melaksanakan  fungsi  militernya.
                  Dengan menuduh para akademisi tidak mampu              rakyat.
                  memahami hakikat yang sesungguhnya makna
                  Dwifungsi, Soeharto memberikan jaminan kepa-
                  da perwira, yang disebutnya rekan-rekan perwi-
                  ra, yang mengunjungi peternakannya di Tapos,
                  Jawa Barat, bahwa kehadiran ABRI dalam badan legislatif tidak hanya
                  mewakili ABRI, tetapi juga untuk melaksanakan tugas yang dipercaya-
                  kan kepada ABRI oleh rakyat. Dia kembali mengulangi bahwa Dwifung-
                  si angkatan bersenjata Indonesia memiliki landasan hukum yang kuat
                  di samping alasan historis berdasarkan sejarah perjuangan nasional.


                  Begitupun,  masih  ada  upaya  pemerintah  Soeharto  untuk  mendik-
                  te partai politik. Pada 1996, Ibu Kota Jakarta diguncang oleh Insiden
                  PDI-Megawati di Gambir, Jakarta. Hanya berselang satu bulan kemu-
                  dian, insiden di Jakarta kembali terjadi. Insiden ini adalah penyerangan
                  ke Kantor PDI di Jalan Diponegoro atau disebut dengan Sabtu Kelabu.





                    dpr.go.id                                                                              229
   231   232   233   234   235   236   237   238   239   240   241