Page 162 - Prosiding Seminar Nasional: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya. Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional bekerja sama dengan Pusat Studi Hukum Agraria
P. 162

154    Prosiding Seminar: Problematika Pertanahan dan Strategi Penyelesaiannya


             sebagai petani dengan tanah garapan. Respon aparat tidak membangun kepercayaan rakyat
             untuk melakukan dialog dalam rangka mencari mufakat. Bahkan di jaman Orde Baru, konflik
             pertanahan  selalu  dikaitkan  dengan  stigma  Partai  Komunis  Indonesia  (PKI),  sehingga
             tindakan represif diambil untuk menyelesaikannya.

                  Kedua, konflik pertanahan juga terjadi karena kebijakan pemerintah mengenai pengua-
                                                                                25
             saan dan penggunaan tanah serta pengelolaan Sumber Daya Alam.  penguasaan tanah lebih
             banyak diberikan kepada perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan.

                  Menurut data Kemenhut, luas HTI hingga kini mencapai 9,39 juta hektare dan dikelola
             oleh 262 unit perusahaan dengan izin hingga 100 tahun. Selain itu, luas HPH di Indonesia
             21,49 juta hektar yang dikelola oleh 303 perusahaan HPH saja. Bandingkan dengan izin Hutan
                                                                                         26
             Tanaman Rakyat (HTR) yang sampai sekarang hanya seluas  631.628 hektar.
                  Penguasaan tanah di bidang agribisnis juga menampilkan ketimpangan antara perusa-
             haan dan rakyat. Sedikitnya  9.4 juta hektar tanah telah diberikan kepada 600 perusahaan
             perkebunan  sawit  saja.  27   Data  tersebut  menggambarkan  penguasaan  tanah  pertanian
             Indonesia  berada  di  tangan  perusahaan,  baik perusahaan  nasional  maupun  asing.  Rakyat

             Indonesia menjadi buruh tani dari perusahaan-perusahaan perkebunan tersebut. Fakta ini
             menunjukkan  bahwa  keberpihakan  negara  kepada  rakyat  kecil  tidak  konsisten  dengan
             substansi  UUPA  ataupun  UUD.  Pemerintah  harus  menjadi  bahan  pemikiran  mengenai

             keberpihakan  kepada  petani  kecil  tanpa  harus  mengabaikan  hak  dan  kepentingan  peru-
             sahaan atau investor.
                  UUPA  dibuat  dengan  tujuan  memberikan  arahan  demi  kemakmuran  segenap  rakyat
             Indonesia melalui pengelolaan tanah. 32 juta jiwa petani merupakan yang menjadi sumber

             kerawanan sosial dan ekonomi. Yang pada gilirannya dapat meledak menghancurkan tatanan
             kehidupan yang harmonis.
                  Pemerintah harus membuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat kebanyakan. Salah
             satu  caranya  adalah  menghentikan  “penerbitan  ijin-ijin  usaha  penggunaan  tanah  dan

             pengelolaan  SDA  tidak  menghormati  keberagaman  hukum  yang  menjadi  dasar  dari  hak
                                    28
             tenurial  masyarakat…”  Dibutuhkan  pengkajian    atau  analisis  sebelum  menerbitkan  ijin
             usaha  untuk  perkebunan  atau  pertambangan. Di  tengah  pelaksanaan pemanfaatan  tanah

             dapat dilakukan evaluasi.
                  Di lain sisi, pemerintah harus mampu membuat kebijakan yang menarik dan aman bagi
             investor yang bergerak di bidang perkebunan, kehutanan dan pertambangan, tanpa harus
             mengabaikan atau mengorbankan kepentingan rakyat.







                25  http://www.walhi.or.id/penyelesaian-konflik-agraria-wajib-jadi-prioritas-jokowi-jk.html
                26  http://www.walhi.or.id/penyelesaian-konflik-agraria-wajib-jadi-prioritas-jokowi-jk.html
                27  http://www.walhi.or.id/penyelesaian-konflik-agraria-wajib-jadi-prioritas-jokowi-jk.html
                28  http://www.walhi.or.id/penyelesaian-konflik-agraria-wajib-jadi-prioritas-jokowi-jk.html
   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167