Page 18 - Sejarah/Geografi Agraria Indonesia
P. 18

Sejarah/Geografi Agraria Indonesia
               mengusulkan bahwa kesemua unsur dari tatanan agraria ini bisa dibahas
               dengan memperhatikan ‘lanskap kekuasaan sosial’ (Ludden 1999: 18).
               Kegiatan mengolah tanah memang menjadi sentral tapi bukan satu-
               satunya, dan tidak dapat dipahami terlepas dari tatanan agraria secara
               menyeluruh.

                   Tentu sejarah dan perkembangan dari lanskap kekuasaan sosial ini
               berlainan dari satu wilayah geografis ke yang lain dan polanya tidak dapat
               diasumsikan. Desa misalnya adalah institusi yang relatif baru terlepas
               dari kesan archaic yang selama ini melekat pada konsep tersebut. Bebe-
               rapa ahli bahkan berpendapat bahwa desa di Jawa adalah ciptaan kolonial
               yang relatif baru dan tidak punya akar historis dalam sejarah pra-kolonial
               (Breman 1980, Hoadley 1996). Desa adalah ruang agraria yang muncul
               dalam perkembangan tertentu sejarah dan bukan sebuah unit yang sama
               sepanjang masa. Banyak desa di Nusantara adalah warisan kolonial atau
               bahkan warisan dari masa Orde Baru, misalnya desa-desa yang tumbuh
               dan berkembang dari pemukiman di sekitar perkebunan atau situs tam-
               bang. Gambaran desa sebagai unit kehidupan terkecil yang seolah tum-
               buh dari alam itu sendiri tidak hanya salah secara historis tapi juga berma-
               salah secara politik karena mengandung impian akan ‘masa lalu gemi-
               lang’ yang sesungguhnya tidak pernah ada. Kajian agraria karena itu harus
               dimulai dengan mempelajari proses sosial, ekonomi dan politik yang
               melahirkan ruang agraria itu sendiri dalam berbagai bentuknya. Usaha
               ini melibatkan kritik terhadap unit ruang yang ditetapkan oleh ilmuwan
               dan diterima secara tidak kritis oleh kalangan ilmuwan. Seperti kita lihat
               dalam bab-bab berikut ruang agraria yang bermuncul dalam sejarah tidak
               bertepatan dan bahkan seringkali bertentangan dengan ruang ekonomi
               atau politik yang dibuat oleh industri atau negara. Hal yang penting untuk
               dipelajari bukanlah ruang agraria yang asli sebelum terjamah ekonomi
               modern itu tapi justru interaksinya dengan institusi lain seperti negara,
               perkebunan atau tambang, dan melihat ruang agraria baru yang muncul
               dari proses tersebut. Proses perubahannya sendiri adalah hal yang mena-
               rik seperti pengamatan Robinson terhadap desa Soroako, yang meru-
               pakan pemukiman penduduk selama berabad-abad tapi berganti nama
               menjadi Desa Nikkel ketika pertambangan mulai beroperasi di sana

                                                                          9
   13   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23