Page 123 - Potret Perjuangan Bapak Hukum Agraria Prof. Boedi Harsono
P. 123
Oloan Sitorus & Taufik N. Huda
tur Hak Ulayat. Sayangnya, setelah Prof. A.P. Parlindungan wafat
pada tahun 1999, dunia Hukum Agraria tidak pernah lagi menga-
lami debat yang intensif di antara para guru besar Hukum Agraria,
baik melalui Surat Kabar Harian, seminar-seminar, dan bahkan
melalui kesaksian-kesakian ahli mereka di pengadilan.
Sebagaimana diketahui, guru besar Hukum Agraria yang lahir
kemudian (tepatnya tahun 1998) mewarnai pendidikan tinggi
hukum Indonesia adalah Ibu Prof. Dr. Maria S.W. Sumardjono,
S.H., MPA, M.CL. (selanjutnya dikenal akrab dengan sebutan Ibu
Maria). Kehadiran Ibu Maria sebagai Guru Besar Tetap Hukum
Agraria pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH
UGM) pada waktu itu, tidak menimbulkan “tensi debat” yang me-
ningkat. Dapat dipahami, oleh karena kebetulan Ibu Maria menjadi
Penasihat Ahli Menteri Negara Agraria/Kepala BPN bersama Prof.
Boedi, dan akhirnya Ibu Maria menjadi Wakil Kepala BPN sampai
tahun 2005. Selain itu, kiranya kalaupun ada perbedaan-perbedaan
pandangan di antara Prof. Boedi Harsono dan Prof. Maria S.W
Sumardjono kemungkinan diselesaikan dengan cara “Jawa” yang
santun, sehingga dapat dikatakan hampir tidak pernah ada debat-
terbuka di antara Prof. Boedi Harsono dan Prof. Maria S.W. Sumar-
djono dalam soal-soal Hukum Agraria. 10
10 Sampai awal tahun 1990-an, Indonesia hanya memiliki 2 (dua) Guru Besar
Hukum Agraria, yakni Prof. Boedi Harsono (Usakti/UI) dan Prof. A.P. Parlin-
dungan (USU). Di akhir tahun 1990-an, tepatnya tahun 1998 bertambah lagi
yakni, Prof. Maria S.W. Sumardjono (UGM) dan Prof. Ahmad Sodiki
(UniBraw). Memasuki abad 21, guru besar Hukum Agraria ini berkembang semakin
baik, karena kemudian asisten Prof. Boedi Harsono di UI/Usakti yakni Arie
Sukanti Hutagalung juga berhasil menjadi guru besar. Di UGM, asisten Prof.
Maria Sumardjono, yakni Dr. Nur Hasan Ismail juga berhasil menjadi Guru Besar.
Selanjutnya, di USU, asisten Prof. A.P. Parlindungan, yakni Dr. Muh. Yamin,
juga berhasil menjadi guru besar Hukum Agraria.
110

