Page 136 - Perjuangan Landreform Masyarakat Perkebunan: Partisipasi Politik, Klaim dan Konflik Agraria
P. 136

124   Tri Chandra Aprianto


            transaksi untuk tanaman-tanaman yang sifatnya untuk pemenuhan
            kebutuhan perang diatur langsung oleh pemerintah. Pada masa ini,
            masyarakat perkebunan berada dalam struktur sosial yang sifatnya
            hierarkhis sentralistik. Akan tetapi yang harus dicatat bahwa bentuk
            struktur  sosial yang hadir  pada  masa  pendudukan  Jepang begitu
            ketat, karena Jepang di Indonesia hanya selama 3,5 tahun, sehinga
            strukturnya masih mencerminkan militeristik.

                Dalam  hal permasalahan  tanah, pemerintahan  pendudukan
            Jepang memiliki pandangan   yang berbeda  dengan  pemerintah




            k  Hindia   Setelah   seluruh wilayah
            Belanda, pemerintah pendudukan Jepang menyiapkan seperangkat
            kebijakan (Undang-Undang) yang mengatur mengenai keberadaan
            tanah-tanah  di negeri Hindia  Belanda  tersebut. Merujuk  pada
            penjelasan  Undang-undang Nomor  17 Tahun  2602 (1942) tentang




            keberadaan tanah   Jaw  pemerintah J  menyatakan
            tegas:
                …  bahwa  karena  oeroesan  tanah  penting  sekali  dalam
                kehidoepan  masjarakat, tetapi di Indonesia  ini tanah-tanah
                sering sekali bertoekar-toekar  orang yang mempoenjainya.






                Teroetama   tanah Djawa   oeroesan tanah soedah
                banjak  sekali  seloekbeloeknja,  sehingga  kesoekarannja
                boekan  boeatan  dan  tidak  sedikit  mendatangkan  pengaroeh
                jang boeroek. Oleh  karena  itoe  perloe  dipeladjari dengan

                teristimewa untuk mengoebah keadaannja. 81






                Bahkan secara spesiik pemerintah pendudukan J

            menyiapkan  seperangkat  kebijakan  yang mengatur  keberadaan
            tanah-tanah  perkebunan   (tanah-tanah  hak   erfpacht).  Bagi
            pemerintah pendudukan Jepang tanah-tanah perkebunan tersebut
            harus diambilalih dan dikelola oleh pemerintah yang baru. Merujuk
            pada  Ketentuan  Pasal 1 Undang-undang Nomor   17 Tahun  2602
            (1942), Pemerintah Jepang menyatakan:
            81  Lihat Kan Po No. 2, 2602 (1942), hlm. 27.
   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141