Page 283 - Perjuangan Landreform Masyarakat Perkebunan: Partisipasi Politik, Klaim dan Konflik Agraria
P. 283

Perjuangan Landreform Masyarakat Perkebunan  271


                                                        102
              kembali dari lahan-lahan perkebunan tersebut.  Sebagaimana telah
              dijelaskan pada bab sebelumnya pada awal tahun 1950, praktis tata
              kelola lahan perkebunan Ketajek secara de facto telah dikuasai oleh
              masyarakat  perkebunan. Termasuk  sejak  tahun  1952, masyarakat





              perkebunan y      wilayah tersebut telah membayar
              ke  pemerintah  desa. Kendati begitu, masyarakat  perkebunan  yang
              menggarap  lahan  bekas  milik  onderneming  tersebut  merasakan
              belum terdapat kepastian status hak penguasaan.
                  Selanjutnya pada tahun 1957 melalui Persatuan Petani Indonesia
              (PETANI) cabang Jember, sebuah     organisasi kaum  tani yang

              ber  ke P  N  Indonesia   warga mengupay


              status hukum tanah yang telah mereka digarap. PETANI menganggap
              status  hukum  atas  tanah  tersebut  sudah  selayaknya  menjadi milik
              rakyat. Berangkat dari sini, Ketua PETANI Cabang Jember-nya mulai
              mengupayakan status hukum atas tanah tersebut. Melalui lobi-lobi
              politik  yang dilakukan  oleh  Ketua  PETANI Cabang Jember  kepada
              instansi terkait. Hal ini dilakukan dalam rangka status hukum dari
              kepemilikan lahan perkebunan bekas hak erfpacht seluas 478 hektar.

                  Akhirnya, pemerintah  menerbitkan  SK  Menteri Pertanian  dan
              Agraria yang dikeluarkan pada tanggal 26 Mei 1964, dengan No. 50/
              KA/64 tentang daftar kebun yang terlantar di Daerah Jawa Timur,

              dengan  ditindaklanjuti oleh  Surat  Keputusan  Kantor  Inspeksi




              Agraria Jawa Timur No    t  Status T



              Bekas LMOD    keputusan tersebut bahwa lahan bekas



              merupakan  objek  landreform. Segera  dilakukan  redistribusi lahan
              kepada  803 kepala  keluarga. Sebenarnya  untuk  lahan  perkebunan
              terlantar di Jember ada dua yang masuk dalam SK Menteri Pertanian
              dan  Agraria  tersebut, yaitu  perkebunan  Ketajek  seluas  478 hektar
              dan Sukorejo seluas 354 hektar. 103
              102  Untuk masa Orde Baru dibahas pada bab selanjutnya.
              103  SK Menteri Pertanian dan Agraria No. 50/KA/64.
   278   279   280   281   282   283   284   285   286   287   288