Page 178 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 178
http://pustaka-indo.blogspot.com
selama masa krisis, untuk menjaga agar perlindungan ilahi
tetap dicurahkan atas negeri itu, dan untuk memperoleh rasa
ketersambungan dengan masa lalu. Agama lebih merupakan
persoalan kultus dan ritual daripada gagasan-gagasan.
Agama didasarkan pada perasaan, bukan ideologi atau teori
yang dipilih secara sadar. Ini bukanlah sikap yang asing bagi
masyarakat masa sekarang: banyak orang yang menghadiri
layanan keagamaan dalam masyarakat kita saat ini tidak
tertarik pada teologi, tidak menginginkan sesuatu yang terlalu
eksotik dan tidak menyukai ide tentang perubahan. Mereka
menemukan bahwa ritual-ritual yang telah mapan memberi
mereka rasa keterkaitan dengan tradisi dan
mempersembahkan rasa aman. Mereka tidak mengharapkan
gagasan-gagasan brilian dalam khotbah dan malah merasa
terganggu oleh perubahan dalam liturgi. Dengan cara yang
sama, banyak kaum pagan di zaman kuno senang
menyembah dewa-dewa leluhur, sebagaimana yang telah
dilakukan oleh generasi-generasi sebelum mereka. Ritual-
ritual lama memberi mereka rasa beridentitas, merayakan
tradisi-tradisi lokal, dan tampaknya menjadi jaminan bahwa
segala sesuatu akan tetap sebagaimana adanya.
Peradaban tampaknya merupakan pencapaian yang rentan
dan tidak boleh terancam oleh pengabaian sembrono
terhadap dewa-dewa pelindung, yang akan menjamin
keberlangsungan peradaban itu. Mereka akan merasa
terancam jika suatu kultus baru muncul untuk mengalahkan
kepercayaan nenek moyang mereka. Oleh karena itu,
Kristen tidak mempunyai posisi yang menguntungkan di
kedua dunia itu. Ia tidak mempunyai masa silam Yudaisme
yang dihormati dan juga tidak mempunyai ritual paganisme
yang menarik, yang dapat dilihat dan diapresiasi setiap orang.
Kristen juga berpotensi mengancam, sebab orang Kristen
mengajarkan bahwa Tuhan mereka adalah satu-satunya
~171~ (pustaka-indo)

