Page 225 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 225

http://pustaka-indo.blogspot.com
             orang Yunani, tetapi psikologis dan bahkan sangat personal.

             Agustinus bisa disebut sebagai pendiri spiritualitas Barat. Tak
             ada  teolog  lain,  kecuali  Paulus,  yang  lebih  berpengaruh  di
             Barat.  Kita  mengenalnya  dengan  lebih  baik  dibandingkan
             dengan  pemikir  lain  di  akhir  abad  klasik,  sebagian  besar
             karena  bukunya  Confessions,  sebuah  paparan  yang  fasih
             dan  hangat  tentang  usahanya  menemukan  Tuhan.  Sejak
             awal, Agustinus telah mencari sebuah agama yang bercorak
             teistik.  Dia  memandang  Tuhan  sangat  esensial  bagi
             kemanusiaan: “engkau telah menciptakan kami untuk dirimu
             sendiri,”  demikian  dia  berkata  tentang  Tuhan  pada
             pembukaan Confessions, “dan jiwa-jiwa kami gelisah hingga
                                28
             bertemu denganmu!”  Ketika mengajar retorika di Kartage,
             dia  pindah  menganut  Manicheisme,  sebuah  bentuk
             gnostisisme  Mesopotamia,  tetapi  akhirnya  dia  meninggalkan
             paham itu karena teori kosmologinya yang tak memuaskan.
             Dia  merasa  doktrin  Inkarnasi  merupakan  penyimpangan,
             pelecehan  ide  tentang  Tuhan,  tetapi  ketika  berada  di  Italia,
             Uskup  Ambrose  dari  Milan  mampu  meyakinkan  dirinya
             bahwa  Kristen  bukannya  tidak  sejalan  dengan  Plato  atau
             Plotinus. Meskipun demikian, Agustinus masih berkeberatan
             untuk mengambil langkah akhir dan menerima baptisme. Dia
             merasakan bahwa baginya Kristen mengakibatkan wajibnya
             kehidupan  membujang  dan  dia  enggan  menempuh  jalan
             seperti  itu:  “Tuhan,  berilah  aku  kesucian,”  demikian  dia
             pernah berdoa, “tetapi jangan dulu.” 29


             Konversinya  yang  terakhir  merupakan  sebuah  peristiwa
             Sturm und Drang, penuh gejolak, ketercerabutan keras dari
             masa  lalunya  dan  kelahiran  kembali  yang  menyakitkan,
             seperti  yang  mencirikan  pengalaman  keagamaan  Barat.
             Suatu hari, ketika tengah duduk bersama sahabatnya Alypius
             di kebun mereka di Milan, sebuah pertarungan berkecamuk



                            ~218~ (pustaka-indo)
   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230