Page 231 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 231
http://pustaka-indo.blogspot.com
iman: retineo (memegang teguh kebenaran Inkarnasi dalam
pikiran kita), contemplatio (melakukan kontemplasi atasnya),
dan dilectio (menemukan kesenangan di dalamnya). Secara
bertahap, dengan menumbuhkan rasa kehadiran Tuhan
secara terus-menerus di dalam pikiran kita melalui cara ini,
42
Trinitas akan terungkap. Pengetahuan ini bukan sekadar
perolehan informasi melalui otak, melainkan merupakan
disiplin kreatif yang akan mengubah kita dari dalam dengan
cara mengungkapkan dimensi ilahi di kedalaman diri kita
sendiri.
Masa itu merupakan masa-masa gelap dan susah bagi Barat.
Suku-suku barbar menyerbu masuk Eropa dan meruntuhkan
kekaisaran Romawi: jatuhnya peradaban Barat tak pelak lagi
berpengaruh terhadap spiritualitas Kristen di sana. Ambrose,
mentor besar Agustinus, mengajarkan iman yang pada
dasarnya bersifat defensif: integritas (keterpaduan) menjadi
prinsipnya yang paling penting. Gereja mesti berupaya agar
doktrin-doktrinnya tetap utuh dan, seperti halnya tubuh
perawan Maria, ia harus tetap tak tertembus oleh doktrin-
doktrin sesat kaum barbar (banyak di antara mereka
menganut Arianisme). Kesedihan mendalam juga terbaca
dalam karya terakhir Agustinus: kejatuhan Roma
mempengaruhi doktrinnya tentang Dosa Asal, yang akan
menjadi sentral bagi cara orang Barat memandang dunia.
Agustinus percaya bahwa Tuhan telah menjatuhkan kutukan
abadi bagi manusia, hanya karena satu dosa Adam. Dosa
warisan ini diteruskan kepada seluruh anak keturunannya
melalui tindakan seksual, yang dicemari oleh apa yang
disebut Agustinus sebagai “berahi”. Berahi adalah hasrat
irasional untuk mencari kesenangan pada makhluk semata,
bukannya pada Tuhan; ini dirasakan paling kuat dalam
tindakan seksual, ketika rasionalitas kita sepenuhnya
~224~ (pustaka-indo)

