Page 234 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 234

http://pustaka-indo.blogspot.com
             sebagai  sahabat,  bukan  seorang  lelaki  dengan  seorang
                        46
             perempuan.”   Satu-satunya  fungsi  wanita  adalah  untuk
             melahirkan  anak  yang  akan  menularkan  dosa  asal  kepada
             generasi berikutnya, seperti wabah penyakit.

             Sebuah  agama  yang  bersikap  curiga  terhadap  separo  ras
             manusia dan yang memandang setiap gerak refleks pikiran,
             hati, dan tubuh sebagai gejala berahi yang fatal hanya akan
             membuat kaum pria dan wanita merasa asing dengan kondisi
             mereka. Kristen Barat tidak pernah sepenuhnya sembuh dari
             misogini neurotik ini, sebagaimana masih terlihat dalam reaksi
             miring  terhadap  gagasan  tentang  kependetaan  wanita.
             Sementara  kaum  wanita  Timur  pun  ikut  memiliki  beban
             inferioritas yang dipikul oleh semua wanita pada peradaban
             masa  kini,  saudara-saudara  mereka  di  Barat  menanggung
             stigma  tambahan  tentang  seksualitas  yang  menjijikkan  dan
             penuh  dosa  yang  menyebabkan  mereka  tersisihkan  dalam
             kebencian dan ketakutan.

             Ini  adalah  ironi  ganda,  sebab  gagasan  bahwa  Tuhan  telah
             mendaging  dan  ikut  dalam  kemanusiaan  kita  mestinya
             mendorong  orang  Kristen  untuk  menghargai  jasad.  Ada
             perdebatan  lebih  lanjut  mengenai  keyakinan  yang  sulit  ini.
             Selama  abad  keempat  dan  kelima,  “pembid‘ah”  semacam
             Apollinarius,   Nestorius,   dan   Eutyches   mengajukan
             pertanyaan  yang  sangat  pelik.  Bagaimana  keilahian  Kristus
             bisa  berpadu  dengan  kemanusiaannya?  Bunda  Maria  tentu
             bukanlah  ibu  Tuhan,  tetapi  ibu  dari  manusia  Yesus?
             Bagaimana mungkin Tuhan merupakan bayi yang menangis
             tidak  berdaya?  Tidakkah  lebih  akurat  untuk  menyatakan
             bahwa  dia  ada  bersama  Kristus  dalam  kedekatan  yang
             istimewa,  seperti  di  dalam  kuil?  Meski  dengan  beberapa
             inkonsistensi  yang  nyata,  kaum  ortodoks  tetap  bersikukuh
             dengan  senjata  mereka.  Cyrill,  Uskup  Aleksandria,



                            ~227~ (pustaka-indo)
   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238   239