Page 303 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 303
http://pustaka-indo.blogspot.com
Tuhan terlalu rasional dan sangat mirip dengan seorang
manusia. Kelompok tradisionis menganut doktrin predestinasi
dengan maksud menekankan kodrat Tuhan yang secara
esensial tidak bisa dipahami: kalau kita mengklaim dapat
memahaminya, tentu itu bukanlah Tuhan melainkan sekadar
proyeksi pikiran manusia. Tuhan melampaui segala
pandangan manusia tentang kebaikan maupun kejahatan dan
tidak terikat pada standar-standar dan harapan kita: suatu
tindakan dikatakan jahat atau tidak adil karena Tuhan telah
memutuskannya demikian, bukan karena nilai-nilai manusia
memiliki dimensi transenden yang juga berlaku pada Tuhan.
Kaum Mu‘tazilah keliru menyatakan bahwa keadilan, yang
sepenuhnya merupakan idealisme manusia, merupakan
esensi Tuhan.
Persoalan predestinasi dan kehendak bebas, yang juga
menjadi perdebatan di kalangan Kristen, memperlihatkan
kesulitan utama dalam gagasan tentang Tuhan yang personal.
Tuhan yang impersonal, semacam Brahman, dapat lebih
mudah dikatakan berada di atas kategori “baik” atau
“buruk”, yang dipandang sebagai cadar bagi keilahian yang
tak terpahamkan. Namun, konsepsi tentang Tuhan yang
secara misterius merupakan pribadi yang terlibat dalam
sejarah manusia membuat dirinya terbuka untuk dikritik.
Terlalu mudah untuk menjadikan “Tuhan” ini sebagai tiran
atau hakim atas seluruh kehidupan dan membuat “dia”
memenuhi harapan-harapan kita. Kita bisa mengubah
“Tuhan” menjadi pendukung Partai Republik, sosialis, rasis,
atau revolusioner, sesuai dengan pandangan pribadi kita.
Bahaya semacam ini telah membuat sebagian orang
memandang Tuhan personal sebagai ide yang tidak agamis,
karena hanya akan membenamkan kita dalam prasangka dan
pemutlakan ide-ide manusia.
~296~ (pustaka-indo)

