Page 322 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 322

http://pustaka-indo.blogspot.com
             Seperti  halnya  orang-orang  Yunani,  Al-Farabi  memandang
             mata  rantai  wujud  secara  abadi  memancar  dari  Yang  Esa
             dalam  sepuluh  emanasi  atau  “intelek”  berturut-turut,  yang
             masing-masingnya  membentuk  satu  bidang  Ptolemis:  langit
             terluar, lapisan bintang-bintang tetap, garis lintasan Saturnus,
             Yupiter,  Mars,  Matahari,  Venus,  Merkurius,  dan  Bulan.
             Tatkala  tiba  pada  dunia  sublunar  kita  sendiri,  kita  menjadi
             sadar  akan  hierarki  wujud  yang  berevolusi  dalam  arah
             berlawanan,  dimulai  dari  benda-benda  mati,  meningkat
             kepada  tumbuh-tumbuhan  dan  hewan,  lalu  berpuncak  pada
             manusia  yang  jiwa  dan  akalnya  berasal  dari  Akal  ilahi,
             sedangkan  tubuhnya  berasal  dari  bumi.  Melalui  proses
             purifikasi,  seperti  yang  dijelaskan  oleh  Plato  dan  Plotinus,
             manusia dapat membebaskan diri dari belenggu duniawi dan
             kembali kepada Tuhan, sumber alamiahnya.

             Memang di sini terdapat perbedaan yang nyata dengan visi
             Al-Quran  tentang  realitas,  namun  Al-Farabi  memandang
             filsafat  sebagai  cara  yang  lebih  unggul  untuk  memahami
             kebenaran  yang  telah  diekspresikan  pada  nabi  secara
             metaforis  dan  puitis  agar  dapat  menarik  orang  banyak.
             Namun, falsafah tidak diperuntukkan bagi setiap orang. Pada
             pertengahan abad kesepuluh, unsur esoterik mulai memasuki
             Dunia Islam. Falsafah adalah satu di antara disiplin esoteris
             itu.  Sufisme  dan  Syiisme  juga  menafsirkan  Islam  secara
             berbeda  dari  kaum  ulama,  para  pemuka  agama  yang
             berpegang  hanya  pada  Al-Quran  dan  hukum  Suci.  Para
             faylasuf, kaum Sufi dan Syiah merahasiakan doktrin-doktrin
             mereka bukan karena ingin menolak orang awam, melainkan
             karena  menyadari  bahwa  versi  Islam  mereka  lebih  berbau
             petualangan  dan  banyak  pembaruan  yang  mudah
             menimbulkan  kesalahpahaman.  Tafsiran  harfiah  atau
             simplistik  atas  doktrin-doktrin  falsafah,  mitosmitos  Sufisme,
             atau  Imamologi  Syiah  bisa  membingungkan  orang-orang




                            ~315~ (pustaka-indo)
   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326   327