Page 331 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 331

http://pustaka-indo.blogspot.com
             tradisional  Al-Quran  tentang  penciptaan  ex  nihilo:  dunia
             mengungkapkan akal ilahi, dan manusia dapat berpartisipasi
             di  dalam  yang  ilahi  dan  kembali  kepada  Yang  Esa  dengan
             menyucikan kekuatan nalarnya.

             Falsafah mencapai puncaknya dalam karya Abu Ali ibn Sina
             (980-1037) yang di Barat dikenal dengan julukan Avicenna.
             Dilahirkan  di  lingkungan  keluarga  pengikut  Syiah  di  dekat
             Bukhara, Asia Tengah, Ibn Sina juga dipengaruhi oleh kaum
             Ismaili  yang  sering  datang  dan  beradu  argumentasi  dengan
             ayahnya.  Dia  tumbuh  sebagai  anak  yang  berbakat;  ketika
             berusia  enam  belas  tahun,  dia  menjadi  penasihat  bagi  para
             ahli  kedokteran  penting,  dan  pada  usia  delapan  belas  tahun
             dia telah menguasai matematika, logika, dan fisika. Namun,
             dia  mengalami  kesulitan  memahami  filsafat  Aristoteles  dan
             baru  memperoleh  kejelasan  setelah  membaca  karya  Al-
             Farabi  Intentions  of  Aristotle’s  Metaphysics.  Dia  hidup
             sebagai  seorang  dokter  peripatetik,  berkelana  ke  seluruh
             pelosok  negeri  Islam,  dan  bergantung  kepada  pemberi
             santunan.  Pada  suatu  ketika,  dia  menjadi  wazir  di
             pemerintahan  Dinasti  Buwaihi  yang  Syiah  di  wilayah  Iran
             Barat  dan  Irak  Selatan  sekarang.  Sebagai  intelektual  yang
             brilian  dan  cemerlang,  Ibn  Sina  bersikap  rendah  hati.  Dia
             juga  seorang  yang  sensualis  dan  konon  meninggal  dunia
             cukup muda pada usia 58 tahun.

             Ibn Sina menyadari bahwa falsafah perlu disesuaikan dengan
             perubahan  keadaan  yang  tengah  melanda  imperium  Islam.
             Kekhalifahan  Bani  Abbas  sedang  mengalami  kemunduran
             sehingga  tak  lagi  mudah  untuk  melihat  negara  kekhalifahan
             sebagai masyarakat ideal filosofis seperti yang digambarkan
             oleh  Plato  dalam  Republic.  Secara  alamiah,  Ibn  Sina
             menaruh simpati kepada aspirasi politik Syiah, tetapi dia lebih
             tertarik   kepada    Neoplatonisme    falsafah,   yang




                            ~324~ (pustaka-indo)
   326   327   328   329   330   331   332   333   334   335   336