Page 339 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 339

http://pustaka-indo.blogspot.com
             semata-mata  merupakan  aspek  dari  Tuhan.  hanya  karena
             bahasa manusia tidak mampu mengungkapkan realitas Tuhan
             secara memadai, maka kita terpaksa menganalisisnya lewat
             cara  ini  dan  seolah  merusak  simplisitas  mutlak  Tuhan.  Jika
             kita ingin bicara sangat eksak tentang Tuhan, kita hanya bisa
             menyatakan bahwa dia ada. Saadia tidak membuang semua
             deskripsi positif tentang Tuhan. Dia juga tidak mendahulukan
             konsepsi  para  filosof  tentang  Tuhan  yang  jauh  dan
             impersonal  daripada  Tuhan  Alkitab  yang  personal  dan
             antropomorfis.  Ketika,  misalnya,  dia  mencoba  menjelaskan
             penderitaan  yang  terlihat  di  dunia,  Saadia  bersandar  pada
             solusi para penulis hikmat dan Talmud. Penderitaan, katanya,
             merupakan  hukuman  atas  dosa;  ia  menyucikan  dan
             mendisiplinkan  kita  dengan  maksud  membuat  kita  menjadi
             rendah  hati.  Penjelasan  ini  tidak  akan  memuaskan  bagi
             seorang  faylasuf  sejati  karena  menjadikan  Tuhan  sangat
             manusiawi  dan  menisbahkan  rencana  serta  maksud
             kepadanya.  Akan  tetapi,  Saadia  tidak  melihat  Tuhan  dalam
             konsepsi  kitab  suci  lebih  rendah  daripada  Tuhan  dalam
             falsafah.  Para  nabi  lebih  tinggi  daripada  para  filosof.  Pada
             akhirnya,  akal  hanya  dapat  berupaya  untuk  membuktikan
             secara sistematis apaapa yang telah diajarkan oleh kitab suci.
             Seorang  Yahudi  lainnya  mengambil  langkah  lebih  jauh.
             Dalam karyanya Fountain of Life, Solomon ibn Gabirol (kl.
             1022-1070)  yang  Neoplatonis  tidak  dapat  menerima  doktrin
             penciptaan  ex  nihilo,  tetapi  berupaya  menyesuaikan  teori
             emanasi  untuk  memungkinkan  penisbahan  spontanitas  dan
             kehendak  bebas  kepada  Tuhan.  Dia  mengklaim  bahwa
             Tuhan  telah  menghendaki  atau  menginginkan  proses
             emanasi.  Dengan  demikian,  proses  itu  tidak  terlalu
             mekanistik  dan  menunjukkan  bahwa  Tuhan  mengendalikan
             hukum-hukum  eksistensi,  bukannya  tunduk  pada  dinamika
             yang  sama.  Namun,  Gabirol  gagal  menjelaskan  secara




                            ~332~ (pustaka-indo)
   334   335   336   337   338   339   340   341   342   343   344