Page 499 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 499

http://pustaka-indo.blogspot.com
             di  Barat  yang  memegang  konsep  ketuhanan  yang  lebih
             personalistik.  Orang-orang  mencoba  berbicara  tentang
             “kehendak Tuhan” seakan-akan Tuhan adalah manusia biasa
             yang  menghadapi  berbagai  kendala  yang  sama  seperti  kita
             dan  secara  harfiah  mengatur  dunia  sebagaimana  seorang
             penguasa duniawi. Namun, gereja Katolik mengutuk gagasan
             yang  menyatakan  bahwa  Tuhan  telah  sejak  semula
             menetapkan  bahwa  orang-orang  tertentu  akan  masuk
             neraka.   Agustinus,   misalnya,   menerapkan    istilah
             “predestinasi” pada keputusan Tuhan untuk menyelamatkan
             orang-orang pilihan, tetapi menolak bahwa ada orang-orang
             merugi  yang  telah  ditakdirkan  Tuhan  untuk  masuk  neraka,
             meskipun  ini  merupakan  akibat  wajar  dari  garis  pemikiran
             seperti  itu.  Calvin  memberi  sangat  sedikit  ruang  bagi  topik
             predestinasi  di  dalam  Institutes.  Jika  kita  perhatikan,
             katanya, akan tampak bahwa sesungguhnya Tuhan memang
             telah  melebihkan  pertolongannya  kepada  beberapa  orang
             dibanding yang lain. Mengapa sebagian orang menerima Injil
             sementara sebagian lainnya tidak? Apakah Tuhan bertindak
             arbitrer  atau  tidak  adil?  Calvin  membantah  ini:  penerimaan
             sebagian orang dan penolakan sebagian yang lain merupakan
                                    38
             pertanda  misteri  Tuhan.   Tak  ada  pemecahan  rasional
             terhadap masalah ini, yang kelihatannya menyiratkan bahwa
             kasih  sayang  Tuhan  dan  keadilannya  merupakan  dua  hal
             yang tidak bisa didamaikan. Hal ini tidak sangat merisaukan
             Calvin karena dia memang tidak terlalu tertarik pada dogma.

             Akan  tetapi,  setelah  kematiannya  “kaum  Calvinis”  merasa
             perlu membedakan diri mereka dari pengikut Luther di satu
             pihak  dan  dari  Katolik  Romawi  di  pihak  lain.  Untuk  itu
             Theodorus  Boza  (1519-1605),  yang  pernah  menjadi  tangan
             kanan  Calvin  di  Jenewa  dan  mengambil  alih  kepemimpinan
             setelah kematiannya, menjadikan predestinasi sebagai tanda
             pembeda  Calvinisme  dari  aliran-aliran  lain.  Dia  melicinkan



                            ~492~ (pustaka-indo)
   494   495   496   497   498   499   500   501   502   503   504