Page 564 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 564
http://pustaka-indo.blogspot.com
lagi-lagi seperti kaum sufi, menjelaskan kepercayaannya
terhadap ketuhanan Kristus dengan mengatakan bahwa
meskipun dia adalah ilahi, Tuhan tidak mungkin mewujud
hanya dalam satu orang manusia saja: “Dia sungguh-sungguh
dan secara substansial bersemayam dalam daging manusia-
manusia dan makhluk-makhluk lainnya, seperti halnya dalam
40
tubuh manusia Kristus.” Penyembahan terhadap suatu
Tuhan khusus dan terlokalisasi termasuk sejenis keberhalaan;
Surga bukanlah sebuah tempat, melainkan kehadiran spiritual
Kristus. Gagasan biblikal tentang Tuhan, demikian
Bauthumely meyakini, tidaklah memadai; dosa bukanlah
suatu tindakan, tetapi sebuah kondisi, yaitu hilangnya watak
ketuhanan kita. Namun, secara misterius Tuhan hadir di
dalam dosa, yang hanya merupakan “sisi gelap Tuhan,
41
sekadar ketiadaan cahaya”. Bauthumely dituduh ateis oleh
musuh-musuhnya, namun pandangannya tidak jauh berbeda
dari Fox, Wesley, dan Zinzendorf, meskipun diungkapkan
dengan cara yang jauh lebih kasar. Seperti para Pietist dan
Metodis yang terkemudian, dia berusaha untuk
menginternalisasikan Tuhan yang telah menjadi jauh dan
objektif, serta mengubah doktrin tradisional menjadi
pengalaman keagamaan. Dia juga menolak autoritas dan
memiliki pandangan yang optimistik terhadap manusia seperti
yang dimiliki oleh para filosof Pencerahan dan para pengikut
agama hati.
Bauthumely bermain dengan doktrin kesucian dosa yang
sangat memikat dan subversif. Jika Tuhan adalah segalanya,
dosa bukanlah apa-apa—sebuah ajaran yang oleh para
pengikut sekte Ranter, seperti Laurence Clarkson dan
Alastair Coppe juga dicoba untuk dibuktikan melalui
pelanggaran mencolok terhadap hukum seksual atau dengan
menyumpah dan menghujat di depan publik. Coppe secara
khusus terkenal akan kegemarannya mabuk-mabukan dan
~557~ (pustaka-indo)

