Page 568 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 568

http://pustaka-indo.blogspot.com
             merasa  telah  diselamatkan.  Mereka  pernah  “tiba-tiba
             tertawa  terbahak-bahak,  namun  pada  saat  yang  sama  air
             mata mengalir deras bagaikan air bah, dan bercampur baur
             dengan  pekik  ratapan.  Kadang  kala  mereka  tak  kuasa
             menahan tangisan yang keras, sambil mengungkapkan puja-
                         42
             puji mereka”.  Hal ini sangat berbeda dari sikap terkendali
             dan  tenang  yang  oleh  kaum  mistik  di  semua  tradisi  agama
             besar diyakini sebagai ciri khas pencerahan sejati.

             Perubahan emosional yang bolak-balik ini terus menjadi ciri
             kebangkitan  agama  di  Amerika,  seperti  sebuah  kelahiran
             yang  disertai  oleh  guncangan  penuh  penderitaan  dan upaya
             keras.  Semangat  ini  menjadi  versi  baru  pertarungan  Barat
             dengan Tuhan. gelombang Kebangkitan menyebar bagaikan
             wabah  penyakit  yang  mengepung  kota-kota  dan  desa-desa,
             persis seperti yang terjadi seabad kemudian ketika New York
             dijuluki  Burned-Over  District,  karena  kota  itu  dihanguskan
             oleh  api  gairah  beragama.  Ketika  berada  dalam  keadaan
             yang  demikian  berapi-api,  Edwards  mencatat  para
             pengikutnya  merasa  seluruh  dunia  penuh  kebahagiaan.
             Mereka sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari Alkitab
             dan  bahkan  lupa  makan.  Tidak  mengherankan,  mungkin,
             emosi  mereka  menyurut,  dan  kira-kira  dua  tahun  kemudian
             Edwards  mencatat  bahwa  “mulai  sangat  terasakan  betapa
             Ruh  Tuhan  perlahan-lahan  meninggalkan  kita”.  Di  sini  pun
             dia  tidak  berbicara  secara  metaforis:  Edwards  adalah
             seorang  literalis  Barat  sejati  dalam  soal  agama.  Dia  yakin
             bahwa    peristiwa   Kebangkitan   Agung    merupakan
             pengungkapan  langsung  Tuhan  di  tengah-tengah  mereka,
             aktivitas  Roh  Kudus  yang  langsung  terasakan  sebagaimana
             dalam Pantekosta pertama. Ketika Tuhan telah menarik diri,
             secara  sekonyong-konyong  sebagaimana  kedatangannya,
             tempat yang tadinya diisi oleh Tuhan kini—secara harfiah—
             telah  diambil  alih  oleh  Setan.  Pengagungan  kini  digantikan



                            ~561~ (pustaka-indo)
   563   564   565   566   567   568   569   570   571   572   573