Page 567 - Karen Armstong - Sejarah Tuhan
P. 567

http://pustaka-indo.blogspot.com
             yang  menyapu  Inggris  Baru  selama  tahun  1730-an  ini
             diilhami oleh ceramah Evangelis George Whitfield, murid dan
             kolega  Wesley,  dan  pidato-pidato  tentang  neraka  yang
             disampaikan  oleh  alumnus  Yale,  Jonathan  Edwards  (1703-
             58). Edwards menggambarkan tentang gelombang ini dalam
             esainya “A Faithful Narrative of the Surprising Work of God
             in  Northampton,  Connecticut”.  Dia  menggambarkan
             jamaatnya  di  sana  sebagai  sesuatu  yang  sangat  biasa;
             mereka  bersahaja,  tertib,  dan  santun,  namun  tidak  memiliki
             semangat  keagamaan.  Mereka  tidak  lebih  baik  atau  buruk
             dibandingkan orang-orang di koloni yang lain. Namun, pada
             1734  dua  pemuda  mati  mendadak.  Kejadian  ini  (didukung
             oleh   ucapan   Edwards    yang   terasa   menakutkan)
             menenggelamkan kota dalam hiruk pikuk gairah keagamaan.
             Orang-orang  hanya  berbicara  tentang  agama;  mereka
             berhenti  bekerja  dan  menghabiskan  waktu  seharian  untuk
             membaca Alkitab. Selama kira-kira enam bulan, sekitar tiga
             ribu  orang  dari  berbagai  lapisan  masyarakat  beralih
             menganut  agama  yang  barulahir  itu:  terkadang  sampai
             sebanyak  lima  orang  per  minggu.  Edwards  memandang
             gejala ini sebagai perbuatan langsung dari Tuhan sendiri: dia
             meyakini  hal  ini  secara  sangat  harfiah,  ini  bukan  sekadar
             keberagamaan facon de parler. Sebagaimana yang berkali-
             kali  dikatakannya,  “Tuhan  tampaknya  telah  meninggalkan
             kelazimannya”  dalam  bersikap  di  Inggris  Baru  dan
             menggerakkan  orang-orang  dalam  cara  yang  menakjubkan
             dan mukjizati. Namun, haruslah dikatakan bahwa Roh Kudus
             terkadang  memanifestasikan  diri  dalam  gejala  yang  agak
             histeris. Terkadang, demikian Edwards menceritakan kepada
             kita,  mereka  sangat  “menderita”  karena  rasa  takut  kepada
             Tuhan dan “tenggelam ke dalam jurang tak berdasar, akibat
             rasa bersalah sehingga menyangka mereka sudah berada di
             luar  ampunan  Tuhan”.  Ini  kemudian  disusul  oleh  perasaan
             bahagia  yang  sama  ekstremnya,  karena  tiba-tiba  mereka



                            ~560~ (pustaka-indo)
   562   563   564   565   566   567   568   569   570   571   572