Page 145 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 145
rancangan kurikulum semacam itu ngepertake (menguntungkan)
j
guru, karena guru tidak perlu capek-capek mengoreksi awaban
c
murid yang panjang-panjang, melainkan ukup mencoret a, b, c,
atau d.
Sepintas analisis Ignas Kleden betul. Tapi bila ditelusuri
lebih jauh, rancangan kurikulum yang semacam itu hanya me-
ninabobokan guru, sehingga guru makin lama tidak makin pin-
tar, melainkan main bodoh dan malas, itulah yang namanya teori
stick and carrot, yaitu seolah-olah meringankan beban (ngepena-
kake, Jawa) guru, tapi di balik itu sebetulnya justru bermaksud
memukul guru itu sendiri. Atau dalam pengertian lain, disebut
disebut sebagai bentuk hegemoni; suatu proses penguasaan ter-
hadap guru tanpa disadari oleh si guru yang bersangkutan,
sehingga guru merasa bersalah bila tidak menjalankannya.
Akibat proses peminggiran guru secara politis itu adalah
matinya profesi guru. Guru tak lagi sebagai makhluk yang serba
bisa dan memiliki otoritas besar untuk mengembangkan minat
dan kemampuannya, serta memiliki kemerdekaan di dalam men-
didik murid secara maksimal, melainkan hanya sesosok figur
yang menjalankan tugas sebagai komandan dalam satu regu atau
seorang hakim yang kejam.
1. Marjinalisasi Ekonomis
Secara ekonomis, proses peminggiran peran guru itu dila-
kukan melalui sistem penggajian guru yang amat rendah, sehing-
ga pendapatan seorang guru untuk hidup paling sederhana pun
tidak cukup, apalagi hidup di kota-kota besar, seperti para guru
J
di wilayah abotabek (yang serba mahal). Seorang guru di wila-
yah abotabek dengan tingkat pendidikan SI (sarjana) sedikitnya
J
butuh 10 tahun untuk bisa cicil kredit rumah paling sederhana
(RSS = Rumah Sangat Sederhana), atau butuh 15 tahun untuk
bisa kredit rumah tipe Rumah Sederhana (RS). Itu pun dengan
kerja ekstra mengajar di mana-mana dari pukul 05.00-19.00 WIB.
Jika hanya mengajar di satu tempat, gajinya tidak bakal cukup
untuk kredit rumah yang paling sederhana pun.

