Page 166 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 166
kurang peduli, maka memberikan porsi anggaran pendidikan
rendah.
3. Pemda Dati II memiliki kepedulian yang tinggi, tapi tidak
memiliki kemampuan dalam pembiayaan. Hal itu masih mem-
berikan harapan yang cukup sebab asal Pemdanya kreatif,
maka Bupati/Walikota dapat memobilisasi dana untuk pen-
didikan dari berbagai sumber.
4. Yang celaka adalah bila Pemda Dati II tidak memiliki kemam-
puan untuk pembiayaan dan tidak memiliki kepedulian ama
s
sekali terhadap pendidikan, maka nasib pendidikan di daerah
itu pun akan makin buruk.
Jadi tantangan ke depan itu amat berat. Setidaknya menca-
kup bidang-bidang seperti:
1. Pemberdayaan masyarakat agar masyarakat memahami hak-
haknya sebagai warga untuk memperoleh pelayanan pendi-
dikan yang berkualitas.
2. Pemberdayaan lembaga pada tingkat kabupaten sampai
tingkat sekolah (antara lain pemberdayaan DPRD, pemben-
tukan Dewan Pendidikan, dan Komite Sekolah) agar berfung-
si secara baik dan mampu memperjuangkan aspirasi masya-
rakat untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang ber-
mutu.
3. Peningkatan mutu administrator pendidikan agar mereka
mampu memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan
tuntutan masyarakat.
Pendidikan sendiri ke depan mempunyai tantangan amat
berat yang bersifat inward lookitig (seperti upaya mencerdaskan
bangsa dan pemerataan kesempatan pendidikan), dan outward
lookitig (menghadapi kompetensi global dan kemajuan zaman).
Karena itu, kemampuan daerah dalam mengelola pendidikan
ke depan menuntut aparatur daerah untuk tanggap akan kebu-
tuhan masyarakat (Ace Suryadi, "Kebijakan Pendidikan Nasi-
onal: Sebuah Pemikiran Alternatif", makalah diskusi di CSIS,
18/9/2000, tidak dipublikasikan). Tanpa kemampuan dari Pemda
masing-masing, maka kondisi pendidikan di setiap wilayah akan

