Page 240 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 240

dah  memberikan    izin  kepada  PTN/PTS    untuk  membuka     prog-
              ram  MM   atau  Pascasarjana  lainnya,  sehingga  di  banyak  tempat
              kita  dapat  dengan  mudah   menyaksikan    PTS-PTS   dengan  status
              "Terlihat"— kita  mengetahui    ada  Universitas  X  karena  melihat
              langsung  kampusnya —tapi     memiliki  program Pascasarjana    atau
              MM.   Saya  tidak  tahu  persis  kriteria  pemberian  izin  pendirian
              program   sarjana  atau  MM,  di  PTN  maupun    PTS  di  seluruh  In-
              donesia.  Yang   pasti,  hampir  setiap  PTN/PTS    yang  membuka
              program SI   memiliki  pula  program S2.  Tak jarang  bila  kemudian
              yang  mengajar  di  S2  itu  adalah  para  dosen  yang  mengambil  S2
              di  kampus  yang  sama,  sehingga  yang  terjadi  sebetulnya  adalah
              proses  pembodohan    dan  pembohongan saja,   karena  ilmunya sen-
              diri  saja  belum  matang,  sudah  harus  mengajar  ke  Pascasarjana.


                   Departemen    Pendidikan    Nasional   seharusnya   lebih  ketat
              lagi  dalam  mengawasi   keberadaan   PTN/PTS    di  Indonesia.  Ha-
              nya  PTN/PTS   yang udah    memiliki,  misalnya, 50 doktor,  sebagi-
                                   s
              an  lulusan  luar negeri,  yang boleh  membuka S2.  Dan  untuk  mem-
              buka  program   MM,   mestinya   hanya  boleh  dilakukan   oleh  uni-
              versitas  yang  menyelenggarakan      Program   SI  sehingga  dapat
              menghilangkan     kesan  bahwa    program   MM    itu  mirip  kursus
              manajemen     atau  akuntansi   saja.  Bila  kita  konsisten  bahwa
              penilaian  mutu   sebuah  universitas  itu  didasarkan  pada   hasil-
              hasil  karya  mereka   dan  sumbangan     pemikirannya     terhadap
              masyarakat,   bangsa,  maupun    negara,  maka   tanpa   bermaksud
              underestimate  terhadap  PTN/PTS,  terutama  di  daerah,  dari  seribu
              lebih  perguruan  tinggi  di  Indonesia  itu  yang  layak untuk  menye-
              lenggarakan   Program   S2  maksimal  hanya  50  PTN/PTS.   Adanya
              program   Pascasarjana   di  setiap  PTN/PTS   bukan   kebanggaan,
              tapi  suatu  tragedi,  karena  dengan  demikian  nilai  dari  program
              sarjana  itu  menurun.  Sebagai  contoh, saya  tidak  mungkin  kuliah
              di  program Pascasarjana   di  PTN/PTS X,  meskipun ada    yang  ber-
              sedia  membiayai   secara  gratis  sekaligus  diberi  tunjangan  hidup
              yang  lebih,  hanya  karena  saya  yakin  bila  bersekolah  di  sana,
              tidak  membuat   saya  makin   cerdas.  Sebaliknya,  bisa  saja  batin
              saya  menjadi  makin   tersiksa.
   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244   245