Page 262 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 262
Jawabannya dapat dikembalikan pada konsep awalnya.
Kata paedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani. Dalam bahasa
itu, arti paedagog ialah seorang budak (jariah, slaaf) yang diserahi
tanggung awab mengamati tingkah laku anak dan mengajarnya
j
menulis dan membaca (Ki Hadjar Dewantara, 1977, hlm. 106).
Secara umum, pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan
bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran
(intellect) dan tubuh anak.
Sedangkan Pendidikan Nasional, menurut paham Taman
Siswa, ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bang-
sanya (cultureel-national) dan ditujukan untuk keperluan perike-
hidupan (maatschappelijk) yang dapat mengangkat derajat negara
dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan bangsa
lain untuk kemuliaan segenap manusia di seluruh dunia (Ki
Hadjar Dewantara, 1977, hlm. 14-15).
Berdasarkan konsep awalnya itu, jelas bahwa pendidikan
lebih sebagai proses untuk tumbuhnya budi pekerti, pikiran,
dan perkembangan jiwa anak itu sendiri. Bukan semata-mata
sebagai lembaga kursus yang mengajarkan keterampilan ter-
tentu untuk kepentingan industri atau negara-negara maju. Pen-
didikan merupakan daya upaya bagi tumbuhnya pikiran, jiwa,
dan kekuatan batin, dan karakter anak. Atau upaya untuk meng-
angkat derajat negara dan rakyatnya. Maka, mestinya segala
bentuk intervensi yang merusak proses pendidikan, termasuk
komodifikasi pendidikan, harus ditolak. Sungguh merupakan
ironi bila pendidikan nasional justru membuat bangsa ini hanya
menjadi budak setia terhadap negara-negara kapitalis dan yang
berbahasa lain, hanya karena kita sendiri tidak percaya diri.
Jalan yang dapat ditempuh menuju pemurnian kembali itu adalah
melakukan penyadaran publik, terutama kepada para pengambil
kebijakan dalam bidang pendidikan dan para guru, agar mereka
dalam membuat kebijakan agak selektif dan didasari oleh konsep
yang matang, bukan taraf uji coba, sebab untuk masa depan
anak bangsa tidak boleh coba-coba.
262

