Page 27 - Pendidikan Rusak-Rusakan (Darmaningtyas)
P. 27

oleh  Utomo  Dananjaya,  orang yang  memasukkan    angka  20%  ke
             dalam  konstitusi  itu  adalah  Prof.  Dr.  Djimly  Asidiqie.  Pada  saat
             pembahasan    amandemen    UUD   1945  dan  membahas    pasal  31,
             ketika  ada  anggota  MPR  yang  keberatan  angka  itu  masuk  ke
             dalam  konstitusi  karena  dianggap  tidak  lazim,  Djimly  Asidiqie
             mencontohkan    konstitusi  Thailand.  Berdasarkan  masukan  dari
             Djimly  Asidiqie  itu,  angka  20%  anggaran  pendidikan  itu  pun
             masuk   dalam  konstitusi.

                  Kekurangantepatan    munculnya   pasal  tersebut adalah  mun-
             cul  pada  saat  kondisi  ekonomi  negara  sedang  bangkrut  akibat
             ketamakan   pimpinan rezim Orde Baru, dan rezim yang ada seka-
             rang  ketiban  sampur  untuk  mengembalikan  kondisi  yang  hancur
             luluh.  Sejak  zaman  Presiden  Abdurrahman   Wahid —atau   yang
             lebih  populer  disebut  Gus  Dur —sampai  Megawati,  pemerintah
             mulai  harus membayar bunga    dan cicilan  utang  luar negeri  yang
             jumlahnya selalu  puluhan triliun. Terlepas dari  para  pejabat nega-
             ra  yang  masih  korup,  beban  pemerintah  sekarang  menanggung
             warisan hutang-hutang   dari  rezim Orde  Baru  sangat  besar.  Poli-
             tik Orde  Baru  waktu  itu  direpresentasikan  oleh Golkar, sehingga
             Golkar  itu  memiliki  dosa warisan yang sangat besar pada  bangsa
             ini.  Golkar-lah  yang  membuat  negeri  ini  bangkrut.  Oleh  sebab
             itu,  hanya  orang  bodoh  sajalah  yang  masih  tetap  mempercayai
             dan  memilih  Golkar  pada  setiap  Pemilu.  Orang  yang  memiliki
             kesadaran  kritis,  bahwa  Golkar  selama  32  tahun  telah  membuat
             negeri  ini bangkrut,  pasti  tidak akan  memilih Golkar lagi. Sangat
             mungkin   terjadi,  modal  Partai  Golkar  yang  begitu  besar  pada
             setiap  Pemilu  pascareformasi  itu  pun warisan dari tabungan  hasil
             utang  luar  negeri.  Sebagai  warga  negara  yang  turut  memikul
             beban  utang, sah-sah  saja  kita berprasangka semacam  itu,  karena
             kenyataannya   kita  ketiban  beban  nyaur utang  luar  negeri,  padahal
             kita semua  tidak tahu  utang  itu selama  32  tahun untuk apa  kegu-
             naannya.

                  Besarnya  beban  utang  luar  negeri  yang  harus  ditanggung
             oleh warga  itu  dapat  terlihat pada  uang yang dialokasikan untuk
             membayar   bunga   dan  cicilan  utang  luar  negeri.  Pada  2002  saja,
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32