Page 177 - Cooperative Learning
P. 177
Implementasi Cooperative Learning di Tingkat SMP 167
Kemudian guru mengajukan satu pertanyaan atau masalah kepada
siswa. Setiap siswa diminta untuk berpikir sendiri-sendiriterlebih
dahulu, kemudian mendiskusikan hasil pemikirannya dengan
pasanga di sebelahnya untuk mendapatkan satu konsesus yang
sekiranya dapat mewakili jawaban mereka berdua. Keenam,
Disscussion Group (DG) – Droup Project (GP). Di antara sekian
banyak metode pembelajaran kooperatif, DG dan GP menjadi
metode yang paling sering digunakan. Hampir semua guru sains
menerapkannya. Selain itu, tidak sedikit pula guru ilmu-ilmu sosial
atau bahasa menerapkannya untuk memaksimalkan pengajaran
mereka di ruang kelas. Metode ini lebih terfokus dan terstruktur,
biasanya berlaku untuk beberapa kali pertemuan. Kelompok diskusi
dan proyek kelompok dirancang untuk mengerjakan tugas
pembelajaran atau proyek-proyek tertentu.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan para ahli,
dapat disimpulkan beberapa kelebihan dari pembelajaran
kooperatif.
a. Pembelajaran kooperatif dapat menyebabkan unsur-unsur
psikologis peserta didik terangsang dan lebih aktif.
b. Dapat meningkatkan kerja keras peserta didik, peserta didik
menjai lebih giat dan lebih aktif.
c. Meningkatkan kecakapan individu maupun kelompok dalam
memecahkan masalah, meningkatkan komitmen dan
menghilangkan prasangkan terhadap teman sebaya.
d. Menciptakan suasana yang tidak bersifat kompetitif.
e. Dapat menimbulkan motivasi sosial peserta didik karena
adanya tuntutan dalam menyelesaikan tugas.
Selain kelebihan di atas, pembelajaran kooperatif juga
memiliki kekuragan. Menurut Slavin (dalam Wicaksono, 2015)
kekuarangan dari pembelajaran kooperatif adalah kontribusi dari
peserta didik berprestasi rendah menjadi kurang, dan siswa yang
berprestasi tinggi akan mengalami kekecewaan. Hal ini disebebkan
mereka harus membantu teman yang berkemampuan rendah.
Selain itu, pembelajaran kooperatif juga membutuhkan waktu yang
lama. Bagi guru yang belum berpengalaman, hal dapat

