Page 130 - EBOOK_UMKM dan Globalisasi Ekonomi
P. 130
130
UMKM dan Globalisasi Ekonomi
2) Perbedaan
Pengaruh krisis finansial AS sudah pasti akan dirasakan Indonesia; tinggal
menghitung tingkat kesakitannya, apakah sama atau berbeda dengan tahun
1997. Andai kondisi ekonomi Indonesia, baik sistem maupun strukturnya,
masih mengikuti pola sebelum 1997, mungkin saja akan lahir efek contagion
jilid dua, yang akan membawa kembali negeri ini ke dalam nestapa krisis
moneter. Tetapi yang diyakini, dan harus didukung kuat oleh masyarakat
Indonesia, kebijakan ekonomi Indonesia sudah berbeda dengan masa lalu.
Pertama, nilai tukar rupiah sudah diserahkan pada mekanisme pasar (float-
ing rate), tidak lagi menganut nilai tukar mengambang terkendali yang
membuat BI harus terus melakukan intervensi pasar guna menjaga agar nilai
tukar rupiah tetap berada pada kisaran yang sudah ditetapkan. Sesuai dengan
Undang-Undang, Bank Indonesia berkewajiban menjaga stabilitas nilai tukar
rupiah, namun tidak dipaksa menjaga pada nilai tukar tertentu, sehingga BI
tidak harus bolak-balik intervensi ke pasar uang.
Kedua, tingkat cadangan devisa Indonesia sudah sangat memadai. Jika
akhir 2007 masih 17 dolar AS, per Agustus 2008 sudah mencapai 59,6 miliar
dolar AS. Cadangan devisa negara membantu pemerintah mengelola risiko
yang harus dihadapi, dan memperkuat keyakinan
terhadap negara maupun mata uangnya. Makin besar cadangan devisa
negara, kian kuat pula negara dalam mengelola risiko yang sedang
dihadapinya. Ketiga, sistem perbankan nasional dewasa ini sudah dibentengi
dengan berbagai aturan. Belajar dari banyaknya moral hazard yang terjadi
sebelum krisis moneter 1997, BI telah menerbitkan berbagai aturan dalam
pengelolaan bank. Dengan demikian, kecil peluangnya bagi pemilik untuk
menggunakan dana masyarakat bagi kepentingan bisnisnya. Pemilik pun tidak
bisa semau gue dalam menentukan pengurus bank. Pengawasan oleh BI
terhadap operasional bank
terbilang sangat ketat, sehingga kecurangan-kecurangan yang dilakukan
manajemen bank cepat terdeteksi. Adanya Sistem Informasi Debitur (SID)
yang memungkinkan BI mengetahui identitas debitur seluruh bank dan
memungkinkan bagi manajemen bank untuk tidak dikelabui debitur, sangat
membantu dan mendorong semakin mantapnya perbanan nasional. Hanya

