Page 95 - EBOOK_Falsafah Kepemimpinan Jawa
P. 95

Orang  Jawa  sadar  bahwa  kedudukan  seseorang,  termasuk  raja,  dalam  tata
               dunia ditentukan oleh faktor esensial-imanen yang disebut titah atau pesthi atau takdir
               atau  juga  wahyu.  Karena  itu  tidak  mengherankan  jika  dalam  sejarah    Jawa  dikenal
               adanya  gerakan  raja  idaman  atau  gerakan  Ratu  Adil  seperti  halnya  zaman  Sultan
               Agung yang menjadi penguasa tunggal dalam beberapa wilayah seluruh Jawa, kecuali
               Banten dan Batavia. Pandangan ini mengakui bahwa konsep kekuasaan Jawa selalu
               tidak  dapat  meninggalkan  unsur-unsur  kosmis,  sehingga  di  Yogyakarta  pun  terdapat
               mitologi  Ratu  Kidul  yang  melegitimasi  kekuasaan  Panembahan  Senapati.  Kegiatan
               semacam  ini,  juga  telah  banyak  ditiru  pada  saat  rezim  Soeharto,  yaitu  dengan
               membangun  permandian  di  Clereng,  Kulon  Progo.  Pemandian  yang  disertai  tempat
               pertemuan  strategis  (peristirahatan)  ini,  menurut  penduduk  setempat,  Dhanu  Priyo
               prabowo ada gua Semar yang sering dipakai Soeharto mengadakan pertemuan dengan
               pimpinan negara sahabat. Mungkin, hal ini dipengaruhi oleh pandangan hidup Soeharto
               yang selalu mengidentikan dirinya sebagai tokoh Semar.
                       Dari pendapat ini, kita tidak bisa selalu membenarkannya, sebab tidak seluruh
               konsep  kekuasaan  Jawa,  terutama  setelah  periode  kerajaan,  harus  bersumber  pada
               kasekten.  Mungkin  juga  konsep  kekuasaan  Jawa,  juga  sudah  berubah  menjadi
               ‘kasekten’  dalam  bentuk  lain.  Kekuasaan  Jawa  tetap  memiliki  sifat  kepemimpinan
               universal yang  bermutu.  Hal  ini  dapat  dilihat  melalui buku-buku  kesusasteraan  Jawa.
               Dalam konteks ini, seorang raja dalam kepemimpinan tradisional harus memiliki syarat
               adil  (adil  tan  pilih  sih),  berhati  murah  (berbudi;  ber  dari  luber)  dan  bijaksana
               (wicaksana). Ketiga syarat itu merupakan syarat universal pemimpin dimana pun.
                       Negara tradisional memang hampir seluruh kekuasaan terpusat pada raja. Hal ini
               seperti  halnya  konsep  kekuasaan  Jawa  dapat  dilihat  dari  konteks  kerajaan  Mataram
               yang menerapkan konsep keagungbinataraan. Kekuasaan besar yang wenang wisesa
               ing  sanagari,  dalam  konteks  pewayangan  sering  dinamakan  gung  binathara,  bau
               dhendha  nyakrawati  (sebesar  kekuasaan  dewa,  pemelihara  hukum  dan  penguasa
               dunia) Kamajaya (1995:204). Dalam kaitan ini raja berhak mengambil tindakan apa saja
               dan  dengan  cara  bagaimana  saja  terhadap  kerajaannya,  segala  isi  yang  ada  di
               dalamnya,  termasuk  hidup  manusia.  Karena  itu  kalau  raja  menginginkan  sesuatu,
               dengan  mudah  ia  akan  memerintahkan  untuk  mengambilnya.  Kalau  yang  merasa
               berhak atas sesuatu itu mempertahankannya, diperangilah dia.
                       Dalam  keadaan  semacam  itu,  orang  menjadi  takut  kepada  raja  dan  hanya
               tunduk.  Kalau  berbicara  harus  menyembah  terlebih  dahulu.  Berkali-kali  ia  berbicara
               berarti berkali-kali pula harus menyembah. Namun demikian, dalam konsep kekuasaan
               Jawa, kenyataan itu harus diimbangi dengan sikap berbudi bawa leksana, ambeg adil
               paramarta (berbudi luhur serta mulia dan bersifat adil terhadap siapa saja, atau adil dan
               penuh  kasih  sayang).  Raja  yang  baik  harus  bisa  menjaga  keseimbangan  antara
               kewenangan yang besar dengn kewajiban yang besar juga. Seperti halnya janturan ki
               dalang  wayang  kulit,  tugas  raja  adalah  menjaga  agar  negara  tata  titi  tentrem,  negari
               ingkang  panjang  punjung-punjung  pasir  wukir  lohjinawi  gemah  ripah  karta  tur  raharja
               (negara yang aman tenteram, terkenal karena kewibawaannya besar, luas wilayahnya
               ditandai  dengan  pegunungan  dan  laut  sebagai  wilayahnya,  di  depannya  sawah  luas,
               sungai selalu mengalir).
                       Sistem politik kerajaan sering disebut sistem politik patrimonial atau monarchy.
               Dalam hal ini raja adalah penguasa dan pengayom seperti halnya bapak dalam sebuah
   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100