Page 321 - Tata Kelola Pemilu di Indonesia
P. 321

perolehan suara yang dapat memengaruhi penetapan hasil Pemilu Presiden
                 dan Wakil Presiden.


                 f.  Tindak Pidana Pemilu

                 Tindak pidana Pemilu adalah tindak pidana pelanggaran dan atau kejahatan
                 terhadap ketentuan tindak pidana Pemilu.

                 Beberapa  bentuk  tindak  pidana  Pemilu  menurut  UU  Pemilu,  antara  lain
                 sebagai berikut:

                 a.  Setiap  Anggota  KPU  Kabupaten/Kota  yang  sengaja  tidak  memberikan
                    salinan daftar pemilih tetap kepada Parpol dalam bentuk softcopy atau
                    cakram padat dalam format yang tidak bisa diubah paling lambat tujuh
                    hari setelah daftar pemilih tetap tersebut ditetapkan.

                 b. Anggota  KPU,  KPU  Provinsi,  KPU  Kabupaten/Kota,  PPK,  dan  PPS  yang
                    karena kelalaiannya mengakibatkan hilang atau berubahnya berita acara
                    rekapitulasi  hasil  penghitungan  perolehan  suara  dan/atau  sertifikat
                    rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara.

                 c.  Pelaksana Kampanye Pemilu menjanjikan atau memberikan uang atau
                    materi lainnya sebagai imbalan kepada peserta Kampanye Pemilu secara
                    langsung  ataupun  tidak  langsung  untuk:  a.  tidak  menggunakan  hak
                    pilihnya; b. menggunakan hak pilihnya dengan memilih Peserta Pemilu
                    dengan  cara  tertentu  sehingga  surat  suaranya  tidak  sah;  c.  memilih
                    Parpol Peserta Pemilu tertentu; d. memilih Calon Anggota DPR, DPRD
                    Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota tertentu; atau e. memilih Calon Anggota
                    DPD tertentu.

                 Berdasarkan Pasal 476 UU Pemilu, laporan dugaan tindak pidana Pemilu
                 diteruskan  oleh  Bawaslu,  Bawaslu  Provinsi,  Bawaslu  Kabupaten/Kota,
                 dan/atau  Panwaslu  Kecamatan  kepada  Kepolisian  Negara  Republik
                 Indonesia paling lama 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam sejak Bawaslu,
                 Bawaslu Provinsi, Bawaslu Kabupaten/Kota, dan/atau Panwaslu Kecamatan
                 menyatakan  bahwa  perbuatan  atau  tindakan  yang  diduga  merupakan
                 tindak pidana Pemilu.

                 Perbuatan  atau  tindakan  yang  diduga  merupakan  tindak  pidana  Pemilu
                 dinyatakan  oleh  Bawaslu,  Bawaslu  Provinsi,  Bawaslu  Kabupaten/Kota,


                              BAB 7 – PENEGAKAN HUKUM DAN PENYELESAIAN SENGKETA PEMILU     305
   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325   326