Page 41 - Majalah Peradilan Agama Edisi XI
P. 41

WAWANCARA EKSKLUSIF




            ajukan  pertanyaan.  Dulu,  anggota   harus  kembali  kepada  sejarah.  Pada   sistem  periodisasi  diterapkan,  maka
            DPR  mengatakan  bahwa  waktu      tahun  1998  lahir  TAP  MPR.  Isinya   bisa  dipastikan  hakim  akan  bekerja
            menaikkan usia hakim agung dari 67   supaya masalah peradilan ini menjadi   sesuai  dengan  yang  menguntungkan
            ke 70, kemudian hakim tinggi dari 65   satu  atap.  Karena  dikuatirkan  kalau   Pemerintah. Karena hakim tidak mau
            ke 67, dan hakim tingkat pertama dari   dua  atap,  independensi  hakim  akan   ambil resiko. Itu berbahaya.
            62 ke 65, alasannya karena usia hidup   terganggu.  Itulah  salah  satu  dasar
            orang  Indonesia  semakin  membaik.   pemikiran satu atap.               Selama 6 tahun ini tidak ada lagi
            Oleh   karenanya,   jadi   umurnya    Sekarang     ada     pemikiran   rekrutmen calon hakim. Bagaimana
            semakin panjang. Alasan yang kedua   pembagian    tanggung    jawab   dengan tahun ini?
            adalah bahwa hakim itu semakin tua   pengelolaan  hakim  dengan  lembaga   Insya  Allah  kalau  tidak  ada
            semakin  bijak,  makin  wise.  Dasar   lain.  Berarti  kita  bukan  makin  maju,   halangan,  tahun  ini  jelas  sudah
            yang  ketiga  adalah  bahwa  hakim  itu   makin mundur. Setback itu namanya.   ada   rekrutmen   calon   hakim.
            kan  bekerja  tidak  memerlukan   isik,   Bukannya  maju  kok  kita  malah   Alhamdulillah  Pak  Presiden  sudah
            sehingga  cukup  otaknya,  tidak  ada   mundur  lagi.  Sistem  satu  atap  itu   menyetujui. Sudah ada Surat Menteri
            halangan bagi yang sudah berumur.   harus tetap kita pertahankan di RUU   PAN  yang  ditujukan  ke  Menteri
               Kemudian  saya  tanya,  alasan   JH itu.                           Keuangan  yang  merupakan  izin
            menurunkan  usia  pensiun  itu  apa?   Selain  daripada  itu,  tentang   prinsip persetujuan rekrutmen calon
            Tapi  mereka  semua  diam.  Tidak  ada   promosi   jabatan   misalnya.   hakim  baru.  Kita  masih  menunggu
            yang bisa jawab.                   Dalam  menyeleksi  hakim  untuk    jawaban  Menteri  Keuangan  yang
               Kecenderungan dari semua negara   dipromosikan  menempati  jabatan   akan  mengatur  sistem  penggajian
            itu  semakin  tinggi  usia  pensiun   pimpinan,  Mahkamah  Agung  tidak   dan lain sebagainya.
            hakimnya. Bahkan di beberapa negara   hanya  melihat  aspek  manajerial   Tetapi yang jelas, kita masih sulit
            sudah  lebih  dari  70  tahun.  Malaysia   kepemimpinannya  saja.  Tapi  dilihat   mengikuti aturan di UU No. 49/2009,
            itu 66 kalau hakim agung, tetapi sudah   juga   sejauh   apa   pengetahuan   No.  50/2009  dan  No.  51/2009  yang
            dimajukan  ke  parlemennya  untuk   teknisnya.  Itu  dua  kemampuan  yang   menyatakan  hakim  sebagai  pejabat
            dinaikan juga menjadi 70 tahun. Jadi di   wajib  dinilai.  Nah,  bagaimana  cara   negara  yang  menindikasikan  tidak
            beberapa negara pada umunya sudah   KY untuk menilai kemampuan teknis   ada status calon hakim.
            naik.  Belanda  juga  sudah  70.  Nah,   yudisial  dari  seorang  hakim?.  Kan   Untuk  sementara,  kami  masih
            sekarang apa alasannya usia pensiun   mereka tidak pernah memeriksa dan   menyetujui  rekrutmen  dilakukan
            hakim di Indonesia diturunkan?     memutus perkara?                   dengan mekanisme CPNS. Ini karena
               Kedua,  ada  pemikiran  supaya     Wacana  periodisasi  masa  jabatan   kondisi  darurat.  Kita  sudah  sangat
            masalah man, money, and material itu   hakim  juga  itu  sangat  berbahaya   kekurangan  Hakim.  Jika  ini  tidak
            tidak lagi berada di Mahkamah Agung,   apalagi jika periodisasi itu ditentukan   segera diatasi, akan terjadi stagnasi di
            tetapi  katakanlah  di  bawah  Komisi   oleh  Pemerintah  atau  DPR.  Tidak   daerah.
            Yudisial.  Ini  pun  sudah  salah.  Kita   ada  rumusnya  itu  periodisasi.  Kalau   Saya tahu ada banyak pengadilan
                                                                                  yang hakimnya tersisa hanya 3 orang.
                                                                                  Ketiga hakim ini tidak boleh sakit dan
                                                                                  tidak  boleh  cuti.  Karena  kalau  salah
                                                                                  satunya  sakit  atau  cuti,  tidak  akan
                                                                                  jalan persidangan.
                                                                                     Apalagi  ada  Keputusan  Presiden
                                                                                  (Keppres)     pembentukan     86
                                                                                  pengadilan  baru.  Sampai  saat  ini
                                                                                  Keppres itu belum bisa kita jalankan,
                                                                                  karena  tidak  ada  tenaga  hakimnya.
                                                                                  Keppres yang tidak bisa dijalankan ini
                                                                                  membuat Presiden sendiri menyadari
                                                                                  bahwa  memang  kita  ini  kekurangan
                                                                                  hakim.
              Ketua MA berpose bersama Tim Redaksi Majalah Peradilan Agama usai wawancara  | Achmad Cholil, Mahrus AR, Rahmat Arijaya,
                                                                                                      Photo: Abdul Rahman |




                                                                      MAJALAH PERADILAN AGAMA  Edisi 11 | April 2017  39
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46