Page 58 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 58

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                       1946, 15 November: Sjahrir berhasil mengadakan perundingan dengan pihak
                                      Belanda dalam perundingan Linggarjati

                       1946:          Kementerian Agama didirikan secara resmi.


                       1946:          Persyarikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) berdiri

                       1946:          Sarikat Mahasiswa Indonesia Solo (SMI) berdiri dan dirasa kurang
                                      berhasil karena merupakan gerakan lokal dan juga sekuler.

                       1946, 4-5 Desember: Sebuah konferensi diadakan antara Masyumi dan GPII
                                      di Solo yang meminta agar para menteri dari Masyumi segera
                                      keluar dari kabinet. Namun para menteri Masyumi justru
                                      menolaknya dengan mengatakan bahwa keterlibatan mereka di
                                      kabinet adalah bersifat nasional bukan koalisi sehingga partai
                                      tidak  berhak untuk  mengatur  para  anggotanya  yang berada
                                      dalam kabinet nasional.

                       1947, 5 Februari: HMI lahir di Yogyakarta, kota perjuangan di masa revolusi.
                                      Yogyakarta sangat kondusif sebagai tempat berdirinya pergerakan
                                      mahasiswa seperti HMI, tidak hanya karena Yogyakarta sebagai
                                      ibukota negara Indonesia, tapi juga karena keberadaan beberapa
                                      perguruan tinggi saat itu.

                       1947, 27 Juni: Penolakan dari  partai-partai  yang ada termasuk Masyumi
                                      terhadap hasil perundingan Linggarjati menyebabkan Sjahrir
                                      menyerahkan mandatnya kepada Soekarno.

                       1947, 2 Juli:   Amir Sjarifuddin dipilih sebagai perdana menteri dan kabinet
                                      disusun tanpa keterlibatan Masyumi.

                       1947, 13 Juli:  PSII  mengadakan  konperensi  nasional  partai  di  Banjarnegara
                                      Jawa Barat yang dihadiri oleh 20 cabang. Dalam keonferensi
                                      tersebut PSII menegaskan keinginanny untuk mendirikan partai
                                      sendiri lepas dari Masyumi


                       1947,  13 November:  Terjadi  perombakan kabinet  Amir  Sjarifuddin, dimana
                                      Masyumi bersedia masuk dalam kabinet koalisi dan menempatkan
                                      kader-kadernya (Samsudin, M. Roem, KH. Masjkur dan Kasman
                                      Singodimejo) duduk dalam kabinet.

                       1947:          Kiai Abdul Fattah meningga dunia, dan kepemimpinan pesantren
                                      dan tarekat diwariskannya kepada putranya, Muhammad
                                      Dahlan.






                     42
   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63