Page 59 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 59
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
1948, 16 Januari: Masyumi menarik kader-kadernya dari Kabinet Amir
Syarifuddin karena penolakannya terhadap perundingan Renville
yang banyak menguntungkan pihak Belanda.
1948: Organisasi Islam Persatuan Islam bergabung ke dalam Masyumi
1948, 29 Januari: Kabinet baru yang dipimpin oleh M. Hatta dibentuk. Hatta
mengajak Masyumi dan PNI untuk berkoalisi membangun
kabinet yang kuat sehingga kabinet Hatta ini termasuk kabinet
yang relatif lama bertahan pada masa revolusi (1949).
1948: Kabinet Hatta menghadapi beberapa pemberontakan lokal yaitu
pemberontakan PKI di Madiun dan pemberontakan Darul Islam
di Jawa Barat.
1948, 6 Oktober: Rombongan Prof. KH. R. Moh. Adnan (ketua), Ismail Banda
MA (sekretaris), Saleh Suaidi (sek.II) dan H. Samsir Sutan Rajo
Ameh (Bendahara) yang diutus Menteri Luar Negeri, Agus
Salim menunaikan ibadah haji. Setelah itu, mereka melanjutkan
kunjungan ke Lebanon, Suriah, Irak, Yaman dan negara-negara
lainnya. Agenda kunjungan mereka semata-mata hanya untuk
menunjukkan bahwa telah ada negara baru yang merdeka
bernama Indonesia.
1948, 19 Desember: Agresi militer Belanda dilancarkan dan semua kota penting
di Jawa dan Sumatera dikuasai Belanda, Soekarno, M. Hatta dan
M. Natsir pun ditangkap.
1948: H. Agus Salim yang kala itu menjabat Menteri Luar Negeri
mendorong adanya misi diplomatik ke Arab Saudi. Kebetulan
waktu kunjungan kenegaraan itu bertepatan dengan musim haji.
Mereka yang ditunjuk mengemban amanah negara ini adalah
Prof. KH. R. Moh. Adnan (ketua), Ismail Banda MA (sekretaris),
Saleh Suaidi (sek.II) dan H. Samsir Sutan Rajo Ameh (Bendahara).
1949: Orang Indonesia yang tinggal di mekkah bergerak meminta
pemerintah Belanda menyerahkan konsulatnya di Jeddah kepada
pemerintah Indonesia. Indonesia yang kala itu dikenal dengan
nama Republik Indonesa Serikat (RIS) sudah memiliki kapal-kapal
pengangkut haji, dan penyelenggaraan ibadah haji berada di
bawah tanggung jawab pemerintah Indonesia.
1949 M: Natsir mendampingi Sukiman sebagai wakil ketua Masyumi
43

