Page 64 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 64
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
1959 : Natsir sebagai ketum Masyumi digantikan oleh Prowoto
Mangkusasmito dengan didampingi Sukiman sebagai wakil
ketua.
1959: Status Aceh ditingkatkan menjadi “Daerah Istimewa”, setelah
dua tahun sebelumnya, untuk mengakhiri perlawanan dari Aceh,
Presiden Sukarno menjadikan Aceh sebagai propinsi tersendiri.
1959: Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden. Dekrit ini
berimplikasi pada pembubaran konstituente dan memaksa
kembali pada UUD 1945.
1959: idealisme pembentukan masyarakat Islam menjadi tujuan utama
Muhammadiyah.
1960: NU mendirikan Bank Mualim di Semarang, walaupun akhirnya
semuanya bangkrut karena lemahnya manejemen.
1960: HMI telah memiliki basis masa di berbagai perguruan tinggi.
1960: Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.
1960: PSII bubar karena pertikaian yang akut di kalangan pemimpin-
pemimpin mereka. Tercatat pada saat pembentukan Kabinet
Ali Sastroamidjojo pada tahun 1953, Abikusno dipecat dari
kepemimpinan partai dan digantikan oleh kepemimpinan Arudji
Kartawinata-Anwar Tjokroaminoto. Namun demikian Abikusno
tetap bertahan dengan mendirikan PSII tandingan yang banyak
didukung oleh PSII cabang Sumatera Selatan.
1960: Masyumi dinyatakan sebagai partai terlarang sementara para
pemimpinnya banyak yang ditangkap dan dimasukkan dalam
penjara.
1960: Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser menasionalisasi seluruh
madrasah dari yang semula merupakan ‘sekolah agama’
menjadi sepenuhnya ‘sekolah umum’. Sejak masa itu, madrasah
sepenuhnya menjadi ‘sekolah umum’ yang berada di bawah
kontrol pemerintah Mesir.
1960: Tarekat Wahidiyah didirikan Kiai Abdul Majid Ma’ruf dari
Pesantren Kedonglo, Kediri. Amalan utamanya terdiri dari
pembacaan doa (salawat) yang panjang secara berjamaah. Doa
itu disusun sendiri oleh Kiai Abdul Majid, yang penyusunannya
diyakini berdasarkan ilham dari Allah.
48

