Page 67 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 67

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                       1967:          Para mantan aktifis masyumi mempersiapkan pendirian partai
                                      politik baru yang bernama Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).
                                      Karena masih adanya mantan pemimpin Masyumi yang ditunjuk
                                      sebagai ketua Parmusi, pemerintah menolak pendirian partai baru
                                      itu.  Persetujuan  itu diberikan  setelah  Parmusi  mau  mengganti
                                      ketuanya dengan orang yang ditunjuk oleh pemerintah.


                       1968,  Agustus: Ribuan massa umat Islam berkumpul Masjid Al-Azhar
                                      menyambut kedatangan mantan tokoh-tokoh Masyumi yang
                                      baru dilepaskan dari penjara. Para pemimpin Masyumi itu
                                      adalah Hamka, Isa Anshary dan Burhanudin Harahap. Beberapa
                                      tokoh  seperti  M.  Natsir,  Syafruddin  Prawiranegara,  Prawoto
                                      Mangkusasmito, M. Roem dan Kasman Singodimejo juga hadir
                                      dan memberikan orasi dalam tabligh akbar itu. Mereka menuntut
                                      agar pemerintah segera merehabilitasi Masyumi.


                       1968:          Bamuis ditangani negara dengan pengawasan langsung Jendral
                                      Alamsjah Prawiranegara dalam pengumpulan dan pemanfaat
                                      zakat.


                       1968:          Perdebatan yang tidak mencapai kesepakatan tentang kehalalan
                                      bunga bank terjadi lagi pada pada muktamar di Muhammadiyah
                                      Sidoarjo

                       1968:          Gubernur Propinsi Jawa Barat mengeluarkan SK Gubernur Kepala
                                      Daerah Tingkat I no. 352/H.I/3/Sk/1974 pada tanggal 1 Oktober
                                      1974 tentang pendirian BAZ yang berwenang mengelola zakat
                                      di Jawa Barat.


                       1968:          Gerakan zakat di Aceh ditetapkan secara resmi oleh pemerintah
                                      daerah melalui surat keputusan gubernur no. 11/1968, no. 452/
                                      DKDA/1968 dan no. 180/MU/1968 pada 28 November 1968. Isi
                                      instruksi ini antara lain, memerintahkan kepada para pimpinan
                                      daerah mulai dari bupati dan camat untuk bekerjasama dengan
                                      KUA untuk mendirikan lembaga zakat.

                       1968:          Praktek ZIS di tingkat pemerintahan dimulai ketika Soeharto
                                      menyatakan kesediaanya untuk menjadi amil zakat yang
                                      kemudian dilanjutkan implementasinya oleh para pimpinan
                                      daerah (gubernur).


                       1968, 10 Januari: Pembentukan BAZNAS oleh MUI dengan tokoh utamanya
                                      adalah Buya Hamka.








                                                                                                 51
   62   63   64   65   66   67   68   69   70   71   72