Page 71 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 71
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
1974: Munculnya Keputusan Bersama Tiga Menteri (Menteri Dalam
Negeri, Menteri Pendidikan dan Menteri Agama), yang
menyetarakan tiga tingkat pendidikan madrasah (Ibtida’iyah,
Tsanawiyah, dan Aliyah), dengan SD, SMP dan SMA.
1974: LP3ES berhasil merampungkan tiga proyek pengembangan
pesantren, yakni Pesantren Al-Falak di Pagentongan, Bogor, Jawa
Barat, Pesantren Pabelan, Muntilan, Jawa Tengah, dan Pesantren
Tebuireng di Jombang, Jawa Timur.
1974: Soeharto menguatkan ide pembentukan majelis ulama pada
konferensi PDII.
1975: Soeharto melontarkan dukungan pembentukan majelis di
hadapan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Menindaklanjuti usulan
Presiden, di tahun itu juga, Menteri Dalam Negeri memerintahkan
semua provinsi dan kabupaten/kota untuk membentuk majelis
ulama di masing-masing wilayah.
1975, Juli: Kementerian Agama menyelenggarakan Konferensi Nasional
Ulama Indonesia.
1975, 26 Juli: Konferensi Nasional Ulama Indonesia yang dihadiri oleh para
ulama, cendekiawan Muslim dan perwakilan para dinas
kerohanian Islam di bawah Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ABRI)—kini menjadi Tentara Nasional Indonesia
(TNI)—berhasil menyepakati pendirian MUI dan mengangkat
Buya Hamka sebagai ketua umum pertamanya.
1975: Kyai Musta’in Ramly menduduki posisi ketua Jam’iyah Ahli
Thariqah Mu’tabarah. Pengaruh Pesantren Rejoso pun semakin
dikenal di tingkat nasional. Di bawah kepemimpinannya pamor
tarekat Qadiriyah-Naqshabandiyah jga meningkat drastis.
1976: Jamaah Sholahuddin UGM berdiri
1977: Kyai Musta’in mendukung dan berkompanye untuk kemenangan
Golkar, sementara mayoritas anggota NU adalah pendukung
Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Konsekwensinya, sikap
Kyai Musta’in Ramly menyebabkan kemarahan banyak kyai
yang memandangnya telah menyalahgunakan kedudukannya,
sehingga diputuskan untuk mencopotnya dari posisi ketua
Jam’iyah. Kyai Musta’in pun kehilangan pengaruh dan pengikut.
55

