Page 380 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 380

BERITA PROKLAMASI KEMERDEKAAN DI INDONESIA






                   berdirinya RI, tapi masih banyak raja-raja di luar Jawa yang tidak mau
                   mengakui kekuasaan RI karena fanatisme golongan. Mereka ini adalah
                   orang-orang yang selama ini selalu mendapatkan keuntungan dari penjajah

                   Belanda. Mereka lebih suka Belanda kembali menguasai Indonesia. Dan
                   mereka tidak suka dengan para pemimpin bangsa yang ada di Jakarta
                   yang dianggap bersifat radikal, bukan ningrat, dan kadang-kadang bersifat
                   islami.

                   c. Perjuangan Rakyat Sulawesi Mempertahankan Kemerdekaan

                         Pada 23 September 1945, sebanyak 500 personil tentara sekutu
                   (Autralia) dan NICA (Belanda) mendarat di Makassar. Oleh karena itu,
                   Dr. Ratulangi yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Sulawesi dan
                   para pembantunya berpindah ke Watampone sebagai tempat kedudukan

                   sementara Pemerintahan Propinsi Sulawesi. Pada akhir September 1945,
                   beliau mengundang semua raja-raja dan semua pemimpin partai organisasi
                   seluruh Sulawesi Selatan dan Tenggara mengadakan rapat di bawah
                   pimpinan Gubernur Ratulangi. Beliau menjelaskan situasi politik serta

                   memberikan petunjuk tentang perjuangan mempertahankan proklamasi
                   dan pemerintahan berhubungan dengan keadaan. Pada kesempatan itu
                   pula, para raja dan pimpinan parpol dan organisasi di Sulawesi Selatan
                   menyatakan dukungannya dan kesetiaanya terhadap proklamasi dan

                   Negara  Republik  Indonesia.  Sebagai  tanda  dukungan  itu,  dimana-mana
                   berdiri badan-badan perjuangan pemuda untuk membela proklamasi dan
                   Republik. Kebanyakan hanya bersenjatakan bedil, pistol, mitrliur, mortat
                   dan yang dirampas dari tentara Jepang.

                         Kedatangan Tentara Sekutu yang diikuti oleh NICA ini juga
                   menyebabkan rakyat Makassar was-was, karena Sekutu menakuti-nakuti dan
                   melakukan provokasi-provokasi terhadap rakyat Makassar. Seperti peristiwa







                                                                                       379
   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384   385