Page 50 - Pedoman-Evaluasi-Mutu-Gizi-dan-Non-Gizi-Pangan
P. 50
kekurangan serat juga dapat mengakibatkan lambannya gerakan-
gerakan peristaltik usus besar.
Serat pangan (dietary fiber) dibedakan dengan istilah serat kasar
(crude fiber). Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak
dapat dihidrolisis oleh asam atau basa kuat, bahan-bahan kimia
yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam
sulfat (H2SO4 1,25%) dan natrium hidroksida (NaOH 3,25%) dan
bersifat tidak larut dalam air. Sedangkan serat pangan adalah
bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim
pencernaan. Serat pangan adalah serat yang tetap ada dalam kolon
atau usus besar setelah proses pencernaan, baik yang bersifat larut
maupun yang tidak larut dalam air.
Serat kasar merupakan komponen yang sangat penting dalam
penilaian kualitas pangan karena akan menentukan nilai gizinya.
Selain itu, kandungan serat kasar dapat digunakan untuk
mengevaluasi suatu proses pengolahan, misalnya dalam proses
penggilingan atau proses pemisahan antara kulit dan kotiledon
dalam biji-bijian, persentase serat dapat dipakai untuk menentukan
tingkat kemurniaan bahan atau efisiensi suatu proses.
Serat kasar merupakan residu dari pangan setelah diperlakukan
dengan asam dan alkali kuat encer dan mendidih, sehingga
komponen karbohidrat, protein, dan zat-zat lain akan terhidrolisis
dan larut. Setelah disaring dan dicuci dengan air panas yang
mengandung asam dan alkohol, residu yang berupa serat kasar
dapat dikeringkan dan ditimbang hingga bobot konstan.
2.3 Analisis Kadar Amilosa
1) Pembuatan Kurva Standar Larutan Amilosa
a. Sebanyak 40 mg amilosa murni dimasukkan ke dalam labu
takar 100 mL. Ke dalam labu tersebut kemudian
ditambahkan 1 mL etanol 95 % dan 9 mL larutan NaOH 1 N.
41

