Page 161 - Perdana Menteri RI Final
P. 161

menerima jumlah buruh  dan pegawai yang   pasukan, Hatta setuju bahwa politik pertahanan
 berlebih.   bergantung pada tentara dan pertahanan

 rakyat. Namun, menurut Hatta sebaiknya
 Rasionalisasi yang paling urgen adalah menyasar
 sistem pertahanan rakyat tidak menarik orang
 angkatan perang  Republik. Di  masa Amir
 dari pekerjaannya yang biasa dan karena itu
 Sjarifuddin ketika menjadi perdana menteri dan
 tidak mengurangi usaha produktif di dalam
 menteri pertahanan, dibentuk tentara rakyat,
 masyarakat. Hatta juga menolak bahwa sistem
 semacam serdadu di samping tentara resmi,
 pertahanan rakyat  disamakan dengan  tentara
 yang didanai oleh kementerian pertahanan.
 rakyat-nya Amir yang mendapatkan pendanaan
 Amir juga mendanai laskar-laskar tertentu, salah
 dari kementerian pertahanan. Ia yakin bahwa
 satunya adalah laskar Pesindo (Pemuda Sosialis
 sistem  pertahanan rakyat  harus  ditopang  oleh
 Indonesia) yang memiliki basis massa yang   241
 biaya masyarakat dan berpusat dalam tiap desa.
 kuat. Korps marinir oleh Amir dijadikan divisi
 penting dari sayap kiri di dalam angkatan perang   Pelaksanaan rasionalisasi dilaksanakan melalui   PM Mohammad Hatta memberikan amanat pada
                                                                                             acara Parade Angkatan Perang RI.
 Republik dengan terdapat sembilan admiral dan   tiga cara: (1) melepaskan mereka yang sukarela
 hampir seluruhnya berada di bawah kendali   mau meninggalkan tentara, di antaranya ada      Arsip Nasional Republik Indonesia

 Amir. Belum lagi terdapat 463.000 jumlah   yang ingin kembali kepada pekerjaannya yang
 angkatan perang yang tidak bisa seluruhnya   lama sebagai guru, sebagai partikelir, dan lain-
               Hatta memahami bahwa satu kesulitan yang        antara Divisi Siliwangi yang dianggap mendapat
 mendapatkan dana dari negara.  lain (2) menyerahkan mereka kepada kementerian
               objektif adalah di seluruh dunia ditemukan tidak   perlakuan istimewa dari pemerintah dan tentara
 pembangunan dan pemuda yang akan menyiapkan
               mudah memindahkan prajurit yang sekian lama     oposisi yang berkiblat kepada Amir Sjarifuddin.
 Dalam perspektif Hatta, mengurangi jumlah   objek usaha bagi mereka (3) mengembalikan
               bertempur di medan peperangan kembali ke        Di Surakarta, beberapa perwira tidak mau
 tentara itu tidak bermaksud untuk melemahkan   seratus ribu kembali ke dalam masyarakat desa.
               masyarakat. 243                                 menyerahkan jabatan mereka dan merasa bahwa
 pertahanan  negara  malahan  memperkuatnya.   Rencana rasionalisasi  ini tidak  mudah  untuk
                                                               Divisi Siliwangi mendapatkan status anak
 Menurut Hatta, “kekuatan tentara tidak   dilaksanakan. 242  Meskipun  Hatta  seorang  Upaya rasionalisasi Hatta didukung oleh
                                                               emas. Kebijakan rasionalisasi Hatta, meskipun
 bergantung kepada banyak jumlahnya, malahan   ekonom yang menerapkan prinsip manajemen   Nasution,  perwira  muda  dari  Sumatera  Utara
                                                               menghadapi  berbagai  hambatan,  dianggap
 kepada  efektif  susunannya,  baik  morilnya  dan   bisnis pada pemerintahannya, situasi revolusioner   yang merupakan Panglima Divisi Siliwangi.
 240
 disiplinnya, cukup perlengkapannya”.  Semua   yang tak menentu merupakan problem yang tidak   Perwira lainnya yang mendukung kebijakan   tepat oleh Nasution dan Simatupang karena
                                                               menempatkan pertimbangan ekonomi sebagai
 hal tersebut bisa dicapai apabila mengurangkan   mudah untuk dihadapi meskipun perencanaan   rasionalisasi Hatta adalah T.B. Simatupang
                                                               dasar perumusan keputusan
 jumlah angkatan perang kepada susunan yang   yang baik telah dipersiapkan. Secara geopolitik   yang dikenal dekat dengan Sjahrir. Meskipun
 rasional sebab angkatan perang yang terlalu besar   Indonesia  menghadapi  kesukaran  karena  demikian, Jenderal Sudirman dan Urip merasakan
                                                               MENGUPAYAKAN PEMBANGUNAN DI
 yang tidak terbelanjai oleh negara menimbulkan   blokade Belanda menyebabkan kesulitan proses   bahwa terdapat situasi kritis di dalam tubuh
                                                               TENGAH KRISIS
 semangat yang buruk, merusak moril, dan   ekspor dan impor serta kurangnya alat-alat   angkatan bersenjata. Mereka berpendapat bahwa
 mengurangkan kekuatan pertempurannya. Hatta   untuk menggarap pekerjaan yang besar. Selain   pemangkasan  secara  drastis  dalam  situasi  yang   Kebijakan Kabinet Hatta yang keempat adalah
 berpendapat bahwa “suatu tentara yang kecil dan   itu, problem selanjutnya adalah situasi perang   tidak tepat harus ditunda meskipun anggaran   masalah pembangunan yang dilakukan negara
 efektif yang mendapatkan sokongan dana negara   dan revolusi menyebabkan munculnya problem   dana untuk menjamin keberlangsungan tentara   menghadapi krisis. Meskipun menghadapi
 dapat memelihara disiplin dan moril yang baik   psikologis: orang masih hidup dalam  psychose   secara keseluruhan sebetulnya tidak mencukupi.   berbagai kesukaran, terutama kesulitan keuangan,
 dan dapat pula diperlengkapi sebaik-baiknya   perang dan perasaan terbuang dan tidak dihargai   Kekecewaan di kalangan militer tampak jelas   pembangunan  mesti  dijalankan  dan  menjadi
 keadaan”. Serentak dengan mengecilkan angka   jasa-jasanya karena dipindahkan pekerjaannya.   dalam pertentangan yang terjadi di Surakarta   tanggung jawab pemerintah. Untuk menjalankan





 148  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  149
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166