Page 222 - Perdana Menteri RI Final
P. 222

MOHAMMAD NATSIR:                                                                                                                      nilai Islam dalam cara pandang modern kaum     Pada periode 1970an, Natsir tua muncul sebagai

                                                                                                                                                  nasionalis kiri, yang  menurutnya  mereduksi   sosok konservatif yang menolak liberalisme
            Pelopor Politik Demokrasi Islam                                                                                                       logika sehingga mengancam aturan-aturan        serta berteriak mengenai bahaya daripada
                                                                                                                                                                       2
                                                                                                                                                                                                 Kristenisasi lewat bantuan LSM gereja.
                                                                                                                                                  agama Islam itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                 Walaupun Masyumi tidak berhasil dihidupkan
                                                                                                                                                  Tetapi ketika ia diangkat menjadi Menteri
                                                                                                                                                                                                 kembali dalam suasana represif Orde Baru, ia
                                                                                                                                                  Komunikasi oleh Perdana Menteri Pertama
                                                                                                                                                                                                 berubah menjadi sosok ulama intelektual yang,
                                                                                                                                                  Indonesia, Sutan Sjahrir, Sukarno-lah yang
                                                                                                                                                                                                 mirip dengan posisinya pada periode tahun
                                                                                                                                                  mendukung pengangkatannya dan mengatakan
                                                                                                                                                                                                 1930an, melakukan perjuangan lewat khotbah
                                                                                                                                                  bahwa ia-lah sosok yang tepat untuk pekerjaan
                                                                                                                                                                                                 dan artikel yang bertujuan mempengaruhi nilai
                                                                                                                                                  itu. Sukarno berkata dalam Bahasa Belanda:
                                                                                                                                                                                                 masyarakat lewat wacana. Suara dan pandangan
                          “Pergerakan yang sudah mulai                    intelektualnya pada tahun 1930an. Kepercayaan                           “Hij is de man!” Menurut Mohammad Hatta,       keras Natsir tua ini-lah yang menggema
                          berjalan      tak    dapat     dihentikan,      itu tetap dipegangnya dengan kuat pada periode                          Natsir diperlakukan oleh Sukarno bagai         sampai sekarang ketika Natsir dielu-elukan
                          bergerak terus walaupun bertukar                akhir hidupnya, khususnya pada tahun 1970an                             anak  emas Republik. Bung  Karno menolak       banyak politisi Muslim konservatif sebagai
                          rupa dan caranya. Patah tumbuh,                 di-zaman Orde Baru dimana Natsir kembali                                menandatangani segala pernyataan pemerintah    sosok spiritual mereka. Tetapi penting untuk

                          hilang berganti!”   1                           menunjukkan sumbangsihnya terhadap wacana                               jika belum disetujui oleh Mohammad Natsir. Hal   tidak dilupakan bahwa Natsir juga merupakan
                                                                          konservatisme Islam di Indonesia.                                       ini menunjukkan sebuah hubungan yang penuh     seorang  yang  punya  jiwa  kompromistis yang
                          Mohammad Natsir                                                                                                         kepercayaan dan saling tergantung antar dua    kuat, yang menempatkan kepentingan nasional
                                                                          Di sisi yang lain, ia juga dikenal sebagai seorang                      sosok yang dalam spektrum politik Indonesia
                                                                                                                                                                                                 diatas segala kepentingan golongan serta yang
                           PEMBUKAAN                                      sosok yang percaya kuat dengan demokrasi,                               berada di-ujung tersebut. Sebagai seorang Perdana   bersedia untuk membuka tangan lebar kepada
                                                                          yang menjunjung pemahaman Indonesia sebagai                             Menteri, ia dapat dianggap telah gagal mencapai
                                                                                                                                                                                                 beragam sosok yang seharusnya dilihat sebagai
                           Mohammad Natsir adalah orang yang penuh
                                                                          negara yang plural dan beragam, dan membina                             tujuan-tujuan  utama  politiknya. Bukan hanya
                                                                                                                                                                                                 ‘musuh’  pada puncak karirnya sebagai  politisi
                           kontradiksi. Di satu sisi, ia dikenal sebagai
                                                                          persahabatan dan kepercayaan yang kuat dengan                           kehilangan posisi Perdana Menteri, posisinya
                                                                                                                                                                                                 nasional. Kekayaan dan keberagaman sisi dari
                           seorang intelektual Muslim dengan iman yang
                                                                          ‘rival’  utama  Masyumi,  yaitu  kaum  nasionalis                       juga menyebabkan terpecahnya Masyumi dan
                                                                                                                                                                                                 Mohammad Natsir harus bisa dilihat dengan
                           kuat  dan pandangan politik  yang konservatif,
                                                                          dalam PNI serta pemimpin spiritualnya,                                  menyebabkan ambruknya posisi Islam politik
                                                                                                                                                                                                 penuh hormat.
                           baik pada masa sebelum kemerdekaan maupun      Presiden Sukarno, menjadi sahabat karib dan                             sebagai sebuah kesatuan kuat yang mendominasi
                           pada periode Orde Baru. Ia merupakan           rekan kerjanya sepanjang periode Revolusi.                              dalam politik Indonesia pasca-merdeka. Pecahnya   Ada empat periode yang menjadi penentu dari
                           model dan pelopor dari politikus bergaris      Pada periode ketika ia menjabat sebagai Menteri                         kongsi Natsir-Sukarno sudah terjadi semenjak   pandangan dan perkembangan nilai sosok
                           Islam  modernis  konservatif  yang  teguh  pada   dan Perdana Menteri, ia menemukan banyak                             awal tahun 1950an, ketika ia menjabat sebagai   Mohammad Natsir.  Periode awal adalah masa
                                                                                                                                                                                                                   3
                           perjuangan demokratis, seorang yang telah      persamaan dengan kaum nasionalis serta                                  Perdana Menteri, tetapi terwujud dengan sangat   kecilnya, khususnya masa ketika ia mengalami
                           menjadi model spiritual dan pribadi dari       simpatis terhadap pandangan kaum minoritas,                             nyata ketika ia beserta hampir semua pimpinan   pendidikan HIS, MULO serta HBS. Periode
                           beragam politisi aliran Islam modernis, sampai   termasuk dari golongan Kristen dan Katolik                            Masyumi dan PSI, termasuk diantaranya,         ini menancangkan kepercayaan Natsir sebagai

                           pada masa kini. Natsir dekat dan dipengaruhi   yang telah lama dilihatnya dengan penuh curiga.                         Sumitro Djojohadikusumo dan Syafruddin         seorang nasionalis sejati. Ketika ia menjalankan
                           oleh pandangan-pandangan Islam modernis        Pada periode polemik nilai-nilai kebangsaan                             Prawiranegara, meninggalkan Jakarta dan        pendidikan tingkat  SMA di Bandung  dalam
                           konservatif macam Ahmad Hassan dari            di tahun 1930an, Natsir muncul sebagai                                  mendirikan PRRI, sebuah pemberontakan          salah satu HBS terkemuka di Hindia Belanda, ia
                           Persis. Ide-idenya mengenai masyarakat,        salah satu kritikus utama Sukarno serta kaum                            melawan Sukarno dan Jakarta, sebagai tindakan   berkenalan pula dengan beragam sosok di Jong
                           demokrasi, pengetahuan dan logika, negara      nasionalis kiri  lainnya. Ia kecewa  dengan  apa                        putus asa atas ambruknya kekuasaan Islam       Islamieten Bond (JIB) serta kaum nasionalis
                           dan masyarakat itu dibinanya pada periode      yang ia anggap sebagai serangan terhadap nilai-                         politik lewat jalur demokrasi.                 lain seperti Tjokroaminoto, Haji Agus Salim





                           210   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  211
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227