Page 223 - Perdana Menteri RI Final
P. 223
MOHAMMAD NATSIR: nilai Islam dalam cara pandang modern kaum Pada periode 1970an, Natsir tua muncul sebagai
nasionalis kiri, yang menurutnya mereduksi sosok konservatif yang menolak liberalisme
Pelopor Politik Demokrasi Islam logika sehingga mengancam aturan-aturan serta berteriak mengenai bahaya daripada
2
Kristenisasi lewat bantuan LSM gereja.
agama Islam itu sendiri.
Walaupun Masyumi tidak berhasil dihidupkan
Tetapi ketika ia diangkat menjadi Menteri
kembali dalam suasana represif Orde Baru, ia
Komunikasi oleh Perdana Menteri Pertama
berubah menjadi sosok ulama intelektual yang,
Indonesia, Sutan Sjahrir, Sukarno-lah yang
mirip dengan posisinya pada periode tahun
mendukung pengangkatannya dan mengatakan
1930an, melakukan perjuangan lewat khotbah
bahwa ia-lah sosok yang tepat untuk pekerjaan
dan artikel yang bertujuan mempengaruhi nilai
itu. Sukarno berkata dalam Bahasa Belanda:
masyarakat lewat wacana. Suara dan pandangan
“Pergerakan yang sudah mulai intelektualnya pada tahun 1930an. Kepercayaan “Hij is de man!” Menurut Mohammad Hatta, keras Natsir tua ini-lah yang menggema
berjalan tak dapat dihentikan, itu tetap dipegangnya dengan kuat pada periode Natsir diperlakukan oleh Sukarno bagai sampai sekarang ketika Natsir dielu-elukan
bergerak terus walaupun bertukar akhir hidupnya, khususnya pada tahun 1970an anak emas Republik. Bung Karno menolak banyak politisi Muslim konservatif sebagai
rupa dan caranya. Patah tumbuh, di-zaman Orde Baru dimana Natsir kembali menandatangani segala pernyataan pemerintah sosok spiritual mereka. Tetapi penting untuk
hilang berganti!” 1 menunjukkan sumbangsihnya terhadap wacana jika belum disetujui oleh Mohammad Natsir. Hal tidak dilupakan bahwa Natsir juga merupakan
konservatisme Islam di Indonesia. ini menunjukkan sebuah hubungan yang penuh seorang yang punya jiwa kompromistis yang
Mohammad Natsir kepercayaan dan saling tergantung antar dua kuat, yang menempatkan kepentingan nasional
Di sisi yang lain, ia juga dikenal sebagai seorang sosok yang dalam spektrum politik Indonesia
diatas segala kepentingan golongan serta yang
PEMBUKAAN sosok yang percaya kuat dengan demokrasi, berada di-ujung tersebut. Sebagai seorang Perdana bersedia untuk membuka tangan lebar kepada
yang menjunjung pemahaman Indonesia sebagai Menteri, ia dapat dianggap telah gagal mencapai
beragam sosok yang seharusnya dilihat sebagai
Mohammad Natsir adalah orang yang penuh
negara yang plural dan beragam, dan membina tujuan-tujuan utama politiknya. Bukan hanya
‘musuh’ pada puncak karirnya sebagai politisi
kontradiksi. Di satu sisi, ia dikenal sebagai
persahabatan dan kepercayaan yang kuat dengan kehilangan posisi Perdana Menteri, posisinya
nasional. Kekayaan dan keberagaman sisi dari
seorang intelektual Muslim dengan iman yang
‘rival’ utama Masyumi, yaitu kaum nasionalis juga menyebabkan terpecahnya Masyumi dan
Mohammad Natsir harus bisa dilihat dengan
kuat dan pandangan politik yang konservatif,
dalam PNI serta pemimpin spiritualnya, menyebabkan ambruknya posisi Islam politik
penuh hormat.
baik pada masa sebelum kemerdekaan maupun Presiden Sukarno, menjadi sahabat karib dan sebagai sebuah kesatuan kuat yang mendominasi
pada periode Orde Baru. Ia merupakan rekan kerjanya sepanjang periode Revolusi. dalam politik Indonesia pasca-merdeka. Pecahnya Ada empat periode yang menjadi penentu dari
model dan pelopor dari politikus bergaris Pada periode ketika ia menjabat sebagai Menteri kongsi Natsir-Sukarno sudah terjadi semenjak pandangan dan perkembangan nilai sosok
Islam modernis konservatif yang teguh pada dan Perdana Menteri, ia menemukan banyak awal tahun 1950an, ketika ia menjabat sebagai Mohammad Natsir. Periode awal adalah masa
3
perjuangan demokratis, seorang yang telah persamaan dengan kaum nasionalis serta Perdana Menteri, tetapi terwujud dengan sangat kecilnya, khususnya masa ketika ia mengalami
menjadi model spiritual dan pribadi dari simpatis terhadap pandangan kaum minoritas, nyata ketika ia beserta hampir semua pimpinan pendidikan HIS, MULO serta HBS. Periode
beragam politisi aliran Islam modernis, sampai termasuk dari golongan Kristen dan Katolik Masyumi dan PSI, termasuk diantaranya, ini menancangkan kepercayaan Natsir sebagai
pada masa kini. Natsir dekat dan dipengaruhi yang telah lama dilihatnya dengan penuh curiga. Sumitro Djojohadikusumo dan Syafruddin seorang nasionalis sejati. Ketika ia menjalankan
oleh pandangan-pandangan Islam modernis Pada periode polemik nilai-nilai kebangsaan Prawiranegara, meninggalkan Jakarta dan pendidikan tingkat SMA di Bandung dalam
konservatif macam Ahmad Hassan dari di tahun 1930an, Natsir muncul sebagai mendirikan PRRI, sebuah pemberontakan salah satu HBS terkemuka di Hindia Belanda, ia
Persis. Ide-idenya mengenai masyarakat, salah satu kritikus utama Sukarno serta kaum melawan Sukarno dan Jakarta, sebagai tindakan berkenalan pula dengan beragam sosok di Jong
demokrasi, pengetahuan dan logika, negara nasionalis kiri lainnya. Ia kecewa dengan apa putus asa atas ambruknya kekuasaan Islam Islamieten Bond (JIB) serta kaum nasionalis
dan masyarakat itu dibinanya pada periode yang ia anggap sebagai serangan terhadap nilai- politik lewat jalur demokrasi. lain seperti Tjokroaminoto, Haji Agus Salim
210 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 211

