Page 314 - Perdana Menteri RI Final
P. 314

dapat diatasi dan ekonomi kembali dijalankan,   Pemogokan harus segera dihentikan karena
                           sehingga pemasukan dari wilayah ini tetap      dalam waktu itu mendekati musim panen

                           dipertahankan terlebih lagi dalam kondisi      tembakau. Jika persoalan ini tidak segera
                           ekonomi Indonesia yang saat itu sedang limbung,   diatasi, dan pemogokan terus berlanjut maka
                           sumbangan dari perkebunan di Sumatra Timur     akan sangat merugikan, karena tembakau yang
                           menjadi semakin vital.  Penyelesaian kasus     tidak dipanen pada musimnya akan cepat rusak.
                           pemogokan buruh di Sumatera Timur harus        Melalui penyelesaian yang bersifat tripartite,
                           dilakukan secara seksama dan berhati-hati,     dengan mempertemukan buruh; pengusaha; dan
                           mengingat akar perkara ini telah tertanam sejak   pemerintah sebagai penegah, maka diperoleh
                           masa penjajahan, yang kemudian mengemuka       kesepakatan  bahwa  buruh  akan  memperoleh

                           sebagai pertentangan kaum buruh melawan        kenaikan upah, walaupun besarnya tidak sama
                           tuan kebun Belanda dan penguasa lokal feodal.   tinggi dengan angka yang tercantum dalam
                           Oleh karena itu, Hatta meminta Wilopo datang   tuntutan   mereka.   Setelah  menyelesaikan
                                                                                                                                                                                                                               Pengurus PNI mengadakan perundingan dengan
                           sendiri ke Sumatera, dan ia pun menyutujuinya   pemogokan buruh perkebunan tembakau, Wilopo
                                                                                                                                                                                                                               formateur kabinet Mr. Wilopo tgl 20 Maret 1952
                           dengan senang hati.                            melanjutkan dengan kasus buruh perkebunan
                                                                                                                                                                                                                               Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
                                                                          lain yang komoditasnya dapat dipanen tanpa
                           Dalam menangani kasus ini, Wilopo memiliki     bergantung musim, juga buruh kereta api. Dari
                           pertimbangan bahwa produksi tidak boleh        penyelesaian kasus di Sumatra Timur, Wilopo
                                                                                                                                                  kesatuan—Indonesia sudah mulai terlibat        lama kemudian, nama Wilopo kembali dipanggil
                           terganggu oleh pemogokan karena kontribusi     memperoleh kesan bahwa pada dasarnya buruh                              dalam kegiatan ILO seperti yang diperjuangkan   untuk mengisi jabatan Menteri Perdagangan
                           penting usaha ini sebagai alat pembayaran luar   memiliki nasionalisme yang sangat tinggi, dan
                                                                                                                                                  Wilopo pada akhir 1949, dan pada 11 Juni,      dan Perindustrian pada masa Kabinet Sukiman
                           negeri pada masa itu tidak dapat diganti. Namun,   pada sisi lain, ia juga menemui kenyataan akan
                                                                                                                                                  Indonesia secara resmi diterima sebagai anggota   (Masyumi). Kali ini, ia diminta untuk
                           tidak kalah pentingnya, hak-hak buruh juga tidak   adanya penjajahan berlapis dimana para pemodal
                                                                                                                                                  organisasi di bawah PBB yang menaungi          menggantikan posisi menteri Sudjono Hadinoto
                           boleh diabaikan, karena era kemerdekaan yang   asing menggunakan para penguasa lokal untuk                             persoalan buruh. Sekali lagi, keberhasilan dan   yang meminta berhenti karena sakit. Dalam dua
                           berbeda dengan zaman penjajahan dimana buruh   menjalankan eksploitasinya. Oleh  karenanya,
                                                                                                                                                  pencapaian tersebut menunjukan kapasitas       kali pembentukan kabinet pada awal era negara
                           dapat ditindas demi memperbesar keuntungan.    ia memahami alasan para buruh menolak
                                                                                                                                                  sekaligus posisi politiknya yang lekat dengan   kesatuan, Wilopo menyaksikan bahwa politik
                           Tetapi memang kondisi di  lapangan  jauh dari   bernegosiasi atau bahkan keterlibatan Wali
                                                                                                                                                  pembelaan terhadap kaum kecil. Di balik        tanah air waktu itu tidak dapat menghindar
                           ideal. Perusahaan yang dipegang tuan kebun     Negara Sumatra Timur waktu itu.                                         pembawaannya yang tenang dan serius, bahkan    dari konflik kepentingan partai politik, yang
                           asing lebih berorientasi untuk melipatgandakan
                                                                                                                                                  terkesan kaku, Wilopo adalah seorang marhaen   juga menyeret persoalan ideologi. Hal ini sangat
                                                                          Wilopo     berhasil   mengatasi    persoalan
                           keuntungan tanpa memperdulikan kesejahteraan
                                                                                                                                                  yang mengejawantahkan semangat kerakyatan      kentara melalui tawar menawar jumlah kursi yang
                                                                          pemogokan     buruh.   Memuji    kesuksesan
                           pekerjanya. Sedangkan pada sisi lain, kaum buruh
                                                                                                                                                  dalam prilaku politiknya.                      akan dipegang oleh partai dalam kabinet, terlebih
                                                                          ini,  Nieuwesgier, koran Belanda yang tetap
                           juga menuntut kenaikan upah yang terlampau
                                                                                                                                                                                                 lagi waktu itu pemilu belum dapat terselenggara
                                                                          terbit  setelah  kemerdekaan    memposting
                           tinggi. Oleh karenanya, Wilopo datang dengan                                                                           PERDANA MENTERI                                sehingga pembentukan kabinet dilakukan oleh
                                                                          judul  bombastis  untuk laporannya  mengenai
                           jalan  tengah—sebagaimana  yang  menjadi  ciri
                                                                                                                                                                                                 formatur.
                                                                          penyelesaian pemogokan di Sumatera Timur itu                            Selepas kabinet RIS-nya Hatta mengakhiri
                           khas  pemikirannya. Buruh dan perusahaan
                                                                          dengan “Wilopo kwam, zag en overwon” (Wilopo                            masa baktinya, Wilopo banyak mendedikasikan
                           sama-sama harus diuntungkan.                                                                                                                                          PEMBENTUKAN KABINET WILOPO
                                                                          datang, melihat dan menang). Sebelum kabinet                            waktunya untuk kegiatan partai. Terlebih lagi
                           Wilopo harus mengambil tindakan-tindakan       RIS yang dipimpin Hatta berakhir—karena                                 pada era Kabinet Natsir, PNI memilih berada di   Tugasnya sebagai Menteri Perdagangan
                           yang efektif tanpa mengulur-ulur waktu.        status  Indonesia  berubah  menjadi  negara                             luar pemerintahan. Hanya saja tidak berselang   dan Perindustrian berakhir saat Sukiman



                           302   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  303
   309   310   311   312   313   314   315   316   317   318   319