Page 315 - Perdana Menteri RI Final
P. 315

dapat diatasi dan ekonomi kembali dijalankan,   Pemogokan harus segera dihentikan karena
 sehingga pemasukan dari wilayah ini tetap   dalam waktu itu mendekati musim panen

 dipertahankan terlebih lagi dalam kondisi   tembakau. Jika persoalan ini tidak segera
 ekonomi Indonesia yang saat itu sedang limbung,   diatasi, dan pemogokan terus berlanjut maka
 sumbangan dari perkebunan di Sumatra Timur   akan sangat merugikan, karena tembakau yang
 menjadi semakin vital.  Penyelesaian kasus   tidak dipanen pada musimnya akan cepat rusak.
 pemogokan buruh di Sumatera Timur harus   Melalui penyelesaian yang bersifat tripartite,
 dilakukan secara seksama dan berhati-hati,   dengan mempertemukan buruh; pengusaha; dan
 mengingat akar perkara ini telah tertanam sejak   pemerintah sebagai penegah, maka diperoleh
 masa penjajahan, yang kemudian mengemuka   kesepakatan  bahwa  buruh  akan  memperoleh

 sebagai pertentangan kaum buruh melawan   kenaikan upah, walaupun besarnya tidak sama
 tuan kebun Belanda dan penguasa lokal feodal.   tinggi dengan angka yang tercantum dalam
 Oleh karena itu, Hatta meminta Wilopo datang   tuntutan  mereka.  Setelah  menyelesaikan
                                                                                             Pengurus PNI mengadakan perundingan dengan
 sendiri ke Sumatera, dan ia pun menyutujuinya   pemogokan buruh perkebunan tembakau, Wilopo
                                                                                             formateur kabinet Mr. Wilopo tgl 20 Maret 1952
 dengan senang hati.  melanjutkan dengan kasus buruh perkebunan
                                                                                             Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
 lain yang komoditasnya dapat dipanen tanpa
 Dalam menangani kasus ini, Wilopo memiliki   bergantung musim, juga buruh kereta api. Dari
 pertimbangan bahwa produksi tidak boleh   penyelesaian kasus di Sumatra Timur, Wilopo
               kesatuan—Indonesia sudah mulai terlibat         lama kemudian, nama Wilopo kembali dipanggil
 terganggu oleh pemogokan karena kontribusi   memperoleh kesan bahwa pada dasarnya buruh   dalam kegiatan ILO seperti yang diperjuangkan   untuk mengisi jabatan Menteri Perdagangan
 penting usaha ini sebagai alat pembayaran luar   memiliki nasionalisme yang sangat tinggi, dan
               Wilopo pada akhir 1949, dan pada 11 Juni,       dan Perindustrian pada masa Kabinet Sukiman
 negeri pada masa itu tidak dapat diganti. Namun,   pada sisi lain, ia juga menemui kenyataan akan
               Indonesia secara resmi diterima sebagai anggota   (Masyumi). Kali ini, ia diminta untuk
 tidak kalah pentingnya, hak-hak buruh juga tidak   adanya penjajahan berlapis dimana para pemodal
               organisasi di bawah PBB yang menaungi           menggantikan posisi menteri Sudjono Hadinoto
 boleh diabaikan, karena era kemerdekaan yang   asing menggunakan para penguasa lokal untuk   persoalan buruh. Sekali lagi, keberhasilan dan   yang meminta berhenti karena sakit. Dalam dua
 berbeda dengan zaman penjajahan dimana buruh   menjalankan eksploitasinya. Oleh  karenanya,
               pencapaian tersebut menunjukan kapasitas        kali pembentukan kabinet pada awal era negara
 dapat ditindas demi memperbesar keuntungan.   ia memahami alasan para buruh menolak
               sekaligus posisi politiknya yang lekat dengan   kesatuan, Wilopo menyaksikan bahwa politik
 Tetapi memang kondisi di  lapangan  jauh dari   bernegosiasi atau bahkan keterlibatan Wali
               pembelaan terhadap kaum kecil. Di balik         tanah air waktu itu tidak dapat menghindar
 ideal. Perusahaan yang dipegang tuan kebun   Negara Sumatra Timur waktu itu.  pembawaannya yang tenang dan serius, bahkan   dari konflik kepentingan partai politik, yang
 asing lebih berorientasi untuk melipatgandakan
               terkesan kaku, Wilopo adalah seorang marhaen    juga menyeret persoalan ideologi. Hal ini sangat
 Wilopo  berhasil  mengatasi  persoalan
 keuntungan tanpa memperdulikan kesejahteraan
               yang mengejawantahkan semangat kerakyatan       kentara melalui tawar menawar jumlah kursi yang
 pemogokan  buruh.  Memuji  kesuksesan
 pekerjanya. Sedangkan pada sisi lain, kaum buruh
               dalam prilaku politiknya.                       akan dipegang oleh partai dalam kabinet, terlebih
 ini,  Nieuwesgier, koran Belanda yang tetap
 juga menuntut kenaikan upah yang terlampau
                                                               lagi waktu itu pemilu belum dapat terselenggara
 terbit  setelah  kemerdekaan  memposting
 tinggi. Oleh karenanya, Wilopo datang dengan   PERDANA MENTERI  sehingga pembentukan kabinet dilakukan oleh
 judul  bombastis  untuk laporannya  mengenai
 jalan  tengah—sebagaimana  yang  menjadi  ciri
                                                               formatur.
 penyelesaian pemogokan di Sumatera Timur itu   Selepas kabinet RIS-nya Hatta mengakhiri
 khas  pemikirannya. Buruh dan perusahaan
 dengan “Wilopo kwam, zag en overwon” (Wilopo   masa baktinya, Wilopo banyak mendedikasikan
 sama-sama harus diuntungkan.                                  PEMBENTUKAN KABINET WILOPO
 datang, melihat dan menang). Sebelum kabinet   waktunya untuk kegiatan partai. Terlebih lagi
 Wilopo harus mengambil tindakan-tindakan   RIS yang dipimpin Hatta berakhir—karena   pada era Kabinet Natsir, PNI memilih berada di   Tugasnya sebagai Menteri Perdagangan
 yang efektif tanpa mengulur-ulur waktu.   status  Indonesia  berubah  menjadi  negara   luar pemerintahan. Hanya saja tidak berselang   dan Perindustrian berakhir saat Sukiman



 302  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  303
   310   311   312   313   314   315   316   317   318   319   320