Page 355 - Perdana Menteri RI Final
P. 355

yang dihadapi masih merupakan persoalan lama,   sebelumnya banyak beredar yang menyatakan   kestabilan politik. Pemerintah juga berusaha
 sehingga baginya tidak perlu merancang sesuatu   bahwa kabinetnya hanya akan dapat hidup   untuk membangkitkan tenaga rakyat dan serta

 yang baru hanya untuk berbeda dari sebelumnya.   atas dukungan PKI. Perolehan 122 suara yang   membangun hubungan yang sinergis antar alat-
 Menurut Ali Sastroamidjojo, masalah-masalah   mendukungnya menunjukan  bahwa  tanpa PKI   alat kekuasaan negara.
 yang dihadapi bangsa Indonesia merupakan   yang menguasai 15 kursi parlemen, kabinetnya
               Persoalan ekonomi menjadi bidang yang tak kalah
 kelanjutan dari persoalan sudah ada sejak awal   tetap akan memenangkan voting. Dengan
               rumit dan berkaitan dengan banyak hal. Adapun
 tahun 1950 dan oleh sebab itu tugas kabinetnya   demikian, program kabinet pada prinsipnya
               langkah-langkah Kabinet Ali Sastroamidjojo
 adalah menyelesaikannya. Demikian pula   diterima, hanya saja istilah yang digunakan
               untuk memperbaiki kondisi ekonomi nasional
 tentang analisa terhadap program yang akan   sesuai dengan budaya politik Indonesia waktu
               kerap menjadi sasaran kritik baik dari
 dijalankan, pemerintah merasa tidak perlu lagi   itu adalah “parlemen menyetujui memberikan
               kelompok oposisi, maupun para perancang
 untuk membautnya karena sudah terlalu banyak   ‘kesempatan bekerja’ kepada Kabinet Ali
               ekonomi. Soemitro Djojohadikoesoemo yang                                      Anggota kabinet Ali Wongso mengadakan
 analisa dan yang pelu diambil adalah langkah   Sastroamidjojo.
                                                                                             malam perkenalan dengan Corpa Diplomatik di
 kongkrit untuk melaksanakannya. Dalam   menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam             Kementerian Luar Negeri pada tgl 14 Agustus
 Secara garis besar agenda kerja kabinet ini   Kabinet  Wilopo  mengkritik  kebijakan  Iskaq   1953.
 hal pendekatan pelaksanaan program, Ali
 dapat dibagi menjadi persoalan-persoalan   Tjokroadisurjo (Menteri Perkonomian) dan Ong
 Sastroamidjojo menekankan bahwa kabinetnya                                                  Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
 dalam negeri dan luar negeri. Adapun persoalan   Eng Die (Menteri Keuangan)—keduanya berasal
 akan mengambil sikap yang ‘tegas dan jelas’.
 9
 dalam negeri meliputi:  (1) Bidang ketertiban-  dari PNI—yang dianggap tidak peduli terhadap
 Persoalan sikap inilah yang menjadi bahan kritik
 keamanan; (2) Persiapan Pemilihan Umum                        rakyat kota, mempercepat usaha penempatan
 yang kedua, dimana pihak oposisi menganggap   masalah keuangan. Dengan semakin dekatnya
 (Pemilu); (3) Kemakmuran dan Keuangan; (4)                    bekas pejuang dan kaum pengangguran terlantar
 Ali menggunakan ‘de rumoerige uitdagende toon’   pemilihan umum mereka dengan terang-terangan
 Organisasi negara dan hubungan pusat dan                      untuk terlibat dalam lapangan pembangunan,
 (suara keras dan menantang). 8  mulai memakai sistem lisensi impor untuk
 daerah; (5) Perburuhan;  dan (6)  penyusunan   membeli dukungan politik yang mengakibatkan   dan memperbaiki pengawasan penggunaan
 Tampaknya pihak oposisi juga tidak memiliki   perundang-undangan.  Hampir  semua  masalah   10  uang negara. Bruce Glassburner mencatat,
               ketidak pastian dunia usaha.  Kritik lain juga
 alternatif program  untuk  ditawarkan kepada   ini telah ada sejak kabinet sebelumnya, sehingga   pada masa pemerintahan Ali Sastroamijojo ini
               muncul dari Sjafruddin Prawiranegara yang
 kabinet  baru,  dan  cenderung  berpikiran  sama   formulasi program yang dirancang pemerintahan   menyatakan ketidaksetujuannya atas keputusan   pula, pengetatan fiskal yang diterapkan kabinet
                                                                                        12
 dengan pemerintah. Setelah melalui proses tanya   Ali Sastroamidjojo juga tampak meneruskan   Iskaq Tjokroadisurjo dan Ong Eng Die untuk   Wilopo mulai ditinggalkan.
 jawab di parlemen, sebagai kewajaran dalam   program kerja kabinet pendahulunya. Misalkan   membebaskan para menteri dari kewajiban
                                                               Di antara program ekonomi kabinet Ali,
 mekanisme demokrasi, selanjutnya partai-partai   saja untuk Pemilu dan bidang keamanan dan   11
               membayar pajak impor mobil mewah.
                                                               terdapat kebijakan Menteri Perekonomian
 mengambil  suara  untuk  memutuskan  apakah   ketertiban. Persiapan Pemilihan Umum sudah
 program kerja kabinet ini dapat diterima. Hasil   mulai dibicarakan sejak Kabinet Natsir. Dalam   Terlepas  dari  seringnya  program  ekonomi   Iskaq Tjokroadisurjo—yang oleh sebagian
 perhitungan suara menunjukan 122 setuju   hal ini Kabinet Ali Sastroamidjojo berusaha agar   kabinetnya  memperoleh  kritik,  Ali  kalangan dianggap berani mengambil langkah

 berbanding 34 menolak, dan 26 tidak memberikan   dapat dengan segera melaksanakan pemilihan   Sastroamidjojo memiliki agenda kerja di bidang   radikal—dikenal dengan istilah ‘Indonesianisasi’
                                                                       13
 suara atau blangko. Dari keseluruhan anggota   umum untuk dewan konstituante dan Dewan   ekonomi yang menitikberatkan programnya   ekonomi.  Indonesianisasi ekonomi sebenarnya
 parlemen, hanya Masyumi dan Partai Katholik   Perwakilan Rakyat. Dalam bidang ketertiban-  untuk menciptakan kemakmuran dan mengatasi   merupakan suatu langkah lumrah diterapkan
 yang  menolak, sedangkan PSI  dan Partai   keamanan, Kabinet Ali Sastroamidjojo berusaha   persoalan dalam bidang keuangan. Untuk itu   oleh sejumlah negara bekas koloni contohnya
 Murba yang sama-sama tidak menjadi bagian   untuk memperbaharui tatanan politik untuk   Pemerintah berusaha untuk menciptakan politik   Philipina, maupun untuk diadopsi oleh sejumlah
 dari kabinet memilih bersikap abstain. Bagi   mengembalikan keamanan dan ketenteraman,   pembangunan yang dapat  menjangkau  rakyat   kabinet pemerintahan di Indonesia meskipun
 Ali Sastroamidjojo perolehan suara ini berarti   sehingga memungkinkan tindakan-tindakan   banyak,  memperbaharui  perundang-undangan   dengan pendekatan yang lebih moderat.
 sangat penting  karena  membungkam  isu  yang   yang tegas dapat diambil untuk menciptakan   agraria sesuai dengan kepentingan petani dan   Gagasan ini dapat dianggap cukup wajar karena





 342  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  343
   350   351   352   353   354   355   356   357   358   359   360