Page 358 - Perdana Menteri RI Final
P. 358

melakukan restorasi dan perluasan produksi yang   Pelaksanaan Indonesianisasi ekonomi menurut                          untuk harga textil masih terbilang tinggi      gangguan keamanan. Tugas pemerintahan Ali
                           didasarkan pada pertimbangan akan kebutuhan    Ali Sastroamidjojo berlangsung sangat pesat                             namun tetap terbeli. 27                        Sastroamidjojo dalam hal ini ialah melakukan

                           stabilitas keuangan, kebijakan kabinet Ali     yang oleh sebab itu pula tidak dapat dijalankan                                                                        persiapan yang matang  dengan  perhitungan
                                                                                                                                                  Pada bidang politik dalam negeri, kabinet Ali
                                                                                       23
                           Sastroamidjojo ditujukan untuk mendorong       dengan teliti.  Meskipun demikian, banyak                                                                              terperinci yang dimulai sejak Januari 1954 dengan
                                                                                                                                                  Sastroamidjojo berhasil mengawal tahapan
                           keunggulan atas ekspansi produksi dan stabilitas   perkembangan yang berlangsung semenjak                                                                             perkiraan pemilu dapat dilaksanakan 16 bulan
                                                                                                                                                  persiapan  dari   penyelenggaraan   pemilu
                                19
                           harga.  Menteri Iskaq mencangkan program       program menteri Iskaq ini dijalankan. Selama satu                                                                      kemudian. Walaupun seolah banyak terlupakan,
                                                                                                                                                  nasional yang berlangsung pada 1955 di
                           Indonesianisasi ekonomi dengan semboyan ‘dari   tahun pelaksanaannya, terlihat bahwa program                                                                          peran penting pemerintahan Ali Sastroamidjojo
                                                                                                                                                  bawah pemerintahan Kabinet Burhanuddin
                                                                          ini  berhasil  mengakselarasi  jumlah  perusahaan                                                                      dalam mensukseskan Pemilu 1955 yang berbiaya
                           ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional’.
                                                                                                                                                  Harahap. Terkait dengan penyelenggaraan
                                                                          impor pribumi yang pada akhir tahun 1950                                                                               Rp 479.891.729, terutama untuk menggarap
                           Adapun langkah yang diterapkan oleh Menteri
                                                                                                                                                  pemilu, pada dasarnya, kabinet Wilopo telah
                                                                          berjumlah sekitar 250, menjadi paling tidak 2.000                                                                      tahap persiapan, sangat besar. Misalnya untuk
                           Perekonomian ini dianggap mengarah pada
                                                                                                          24
                                                                          banyaknya pada November 1954.  Demikian                                 berhasil menyelesaikan peraturan perundang-    persoalan teknis mencetak surat suara dan
                           suatu bentuk proteksionisme yang langsung
                                                                                                                                                  undangan no. 7 tahun 1953 yang menjadi
                                                                          pula selama Ali Sasatoamidjojo menjabat perdana                                                                        dokumen laininya saja ternyata memakan tenaga
                           memperoleh respon keras dari kolega sesama
                                                                          menteri, terjadi peningkatan jumlah bank swasta                         dasar penyelenggaraan pemilu 1955. Tugas       dan waktu yang sangat besar, bahkan untuk
                           anggota  kabinet  yakni  Menteri  Keuangan,
                                                                          nasional yang pada pertengahan 1953 sejumlah                            kabinet Ali Sastroamidjojo kemudian adalah     melaukukan proses cetak, Percetakan Negara
                           Ong Eng Die, dan Gubernur Bank Indonesia,
                                                                          20 buah meningkat pesat hingga angka 75 buah                            untuk mengurus persoalan teknis yang menjadi   harus  dibantu  21  percetakan swasta  di  Jakarta
                           Sjafruddin Prawiranegara. 20
                                                                                               25
                                                                          pada  November  1984.   Hal ini  dapat  terjadi                         operasionalisasi dari peraturan tersebut. Tidak   yang bekerja siang malam dengan penjagaan
                                                                                                                                                  dapat dipungkiri bahwa sebelumnya telah
                           Meskipun menemui sejumlah masalah, program     karena adanya kemudahan pemberian kredit dari                                                                          dari aparat keamanan. Mereka harus mencetak
                           Indonesianisasi ekonomi berhasil menumbuhkan   Bank Indonesia. Contoh lain dari perkembangan                           dihelat sejumlah pemilu lokal yang dapat dikatan   sebanyak 1.948.000 daftar pemilih tetap, dan
                           semangat wirausaha di kalangan pribumi. Tanpa   positif yang berkaitan dengan pemberian kredit                         sebagai langkah pemetaan seperti yang digelar   96.000.000 surat suara dan dokumen lainnya
                           mengingkari bahwa Indonesianisasi ekonomi      oleh bank-bank pemerintah ditunjukan dengan                             di Yogyakarta (1951), Minahasa, Sangihe Talaut   dengan menghabiskan 2.250 ton kertas. Untuk
                           berlawanan dengan interdependensi ekonomi,     semakin berkembangnya perusahaan perkapalan                             (1951) dan kotapraja Makasar (1952). Sejumlah   pembuatan peti suara, proses pengepakan serta
                                                                          swasta  nasional  yang  tumbuh  pesat  hingga                           pemilu pada tingkat lokal tersebut dilakukan   distribusi ke berbagai daerah dibutuhkan biaya
                           Ali  Sastroamidjojo  menganggap  semangat
                                                                          mencapai jumlah 65 perusahaan kapal swasta                              dengan menggunakan sistem bertingkat maupun    tidak kurang dari lima juta rupiah. Keseluruhan
                           nasionalisme ekonomi—yang berpandangan
                                                                                                                                                          28
                                                                          nasional pada 1955. 26                                                  langsung.  Hanya saja, permasalahan teknis     dari proses ini memang baru selesai beberapa saat
                           bahwa bidang ekonomi harus dipegang oleh
                                                                                                                                                  penyelenggaraan pemilu di tingkat nasional     setelah Ali Sastroamidjojo mundur, namun telah
                           bangsa sendiri—sangat penting untuk dimiliki
                                                                          Perbaikan    juga   tampak    pada   bidang                             tentu lebih rumit.                             dimulai jauh-jauh hari ketika ia masih menjabat.
                           bangsa Indonesia guna mentransisikan struktur
                                                                          pertanian. Jumlah produksi beras Indonesia
                           ekonomi kolonial ke nasional. Bagi Ali
                                                                          selama dua tahun masa kepemimpinan Ali                                  Selain   itu,   tantangan    besar   dalam     Salah  satu  langkah  awal  terpenting—namun
                           Sastroamidjojo dengan meneruskan struktur
                                                                          Sastroamidjojo meningkat, hanya saja karena                             penyelenggaraan  Pemilu    nasional  adalah    juga menuai kontroversi—yang dilakukan Ali
                           kolonial dimana ekonomi dipegang dan dikuasai                                                                          kenyataan bahwa untuk perhelatan pesta akbar
                                                                          terkendala bencana seperti banjir, usaha                                                                               Sastroamidjojo adalah menggerakan Panitia
                           oleh para kapitalis asing sama artinya dengan                                                                          demokrasi ini akan dilenggarakan untuk
                                                                          untuk swasembada belum tercapai. Dengan                                                                                Pemilihan Indonesia (PPI) yang sebenarnya
                           menghilangkan kemerdekaan bangsa Indonesia     peningkatan produksi beras, pemerintah                                  kali pertama dalam situasi kemanan dan         telah terbentuk sejak kabinet Wilopo namun
                                                  21
                           dalam bidang ekonomi.  Salah satu hasil        dapat melakukan stabilisasi harga beras yang                            ketertiban yang belum begitu stabil. Bahkan,   tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik
                           yang dapat dilihat dari kebijakan ini adalah   besarnya Rp.1.85,- per liter untuk daerah-                              banyak pihak yang pesimis bahwa pemilu akan    karena  tidak  adanya  kesepakatan  soal  susunan
                           meningkatnya nilai ekspor komoditas tertentu,   daerah, dan Rp.2.85,- khusus untuk wilayah                             dapat  diselenggarakan  secara  lancar.  Mereka   anggota.  Untuk  mengatasi  hal  itu,  ketua  PPI
                           utamanya adalah karet rakyat dan minyak bumi,   ibukota. Stabilisasi harga beras ini sangat                            memperkirakan bahwa pemilu akan banyak         yakni  M.  Asaat  (non-partai)  digantikan  oleh
                           terutama  dikarenakan  keberhasilan  pemerintah   berpengaruh dalam mengendalikan harga                                memakan korban jiwa karena akan menjadi ajang   S. Hadikusumo dari PNI. Kepengurusan PPI
                           untuk mendatangkan investor.  22               berbagai kebutuhan pokok lainnya, walaupun                              bagi eskalasi konflik antar kelopok, juga karena   yang baru, didasarkan atas Keputusan Presiden





                           346   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  347
   353   354   355   356   357   358   359   360   361   362   363