Page 362 - Perdana Menteri RI Final
P. 362
lebih tegas yang ditujukan untuk menumpas TNI dengan mudah memperoleh tambahan
gerakan tersebut. 36 tenaga dari rakyat. 38
PNI dan partai-partai pendukung pemerintah Persoalan-persoalan lain yang lebih kerap
melihat bahwa tindakan yang tegas dan cepat dihadapi selama menjabat perdana menteri
dapat diambil Kabinet Ali Sastroamidjojo karena muncul dari instabilitas yang tercipta sebagai
Masyumi tidak masuk dalam pemerintahan. akibat dari ketidakharmonisan politik
Adapun pada sisi lain, langkah yang diambil pemerintah dengan kelompok oposisi. Situasi
pemerintah dalam menghadapi DI/TII ini sudah dapat dilihat sejak kabinet ini mulai
memperoleh tentangan dari kelompok oposisi bekerja di mana berbagai kritik keras, bahkan
terutama Masyumi. Bahkan perdebatan antara berujung hingga dikeluarkannya interpelasi atau
Pemerintah dan pendukungnya dengan pihak mosi telah beberapa kali dihadapi oleh Kabinet
oposisi sempat mengundang kehebohan atas Ali Sastroamidjojo. Dalam konteks politik
Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo membuka
pernyataan salah satu pemuka Masyumi. Mr. Indonesia waktu itu, serangan-serangan oposisi konferensi keamanan di Istana pada tanggal 13
Januari 1955
Moh Dalidjono yang menyebutkan bahwa solusi yang ditujukan kepada pemerintah adalah
terbaik untuk menyelesaiakan persoalan gerakan perkara wajar. Demikian halnya dengan yang Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
sparatis adalah dengan menjadikan RI sebagai dialami kabinet Ali Sastroamidjojo yang hampir
37
suatu negara Islam. Meskipun kemudian, semua program selalu memperoleh serangan dari
meradang. Pada saat kabinet Ali Sastroamidjojo untuk menjawab protes pihak oposisi terhadap
Masyumi mengklarifikasi bahwa pernyataan lawan politik terutama di parlemen. Sebagai
mulai berkuasa, paling tidak terdapat empat pemerintah. Tidak berhenti di sini, aksi kembali
tersebut adalah opini pribadi dan bukanlah contoh, untuk persiapan penyelenggaraan pemilu
posisi gubernur yang dipegang oleh anggota digelar Masyumi sehingga pertentangan antara
mewakili partai. yang undang-undangnya telah diselesaikan
PNI, dan dua posisi serupa—yakni di Jakarta kubu pro-pemerintah dengan pihak oposisi
oleh Wilopo, pihak oposisi menuduh Ali menjalar sebagai kegaduhan politik yang
Menjelang berakhirnya bulan Oktober, Raya dan Daerah Istimewa Yogyakarta—dijabat
Sastroamidjojo sengaja mengulur waktu agar 42 berlangsung di tingkat akar rumput. 44
wilayah-wilayah di Aceh yang semula dikuasai oleh simpatisan PNI. Terlebih lagi, pada awal
dapat memainkan siasat untuk memenangkan
pemberontak dapat diambil alih oleh tentara 1954, Gubenur Jakarta Raya Sudiro dari PNI
partai pemerintah terutama PNI, PNU dan Tensi tinggi antara kedua belah pihak tampak pula
pemerintah. Hanya saja usaha lebih lanjut untuk yang pada bulan November 1953 menggantikan
39
PIR. Serangan ini banyak muncul pada awal dari serangan pihak oposisi agenda politik luar
memberantas gerakan perlawanan NII di Aceh Sjamsuridjal dari Masyumi, membuat banyak
1954 setelah pemerintah gagal memenuhi jadwal negeri pemerintah yang biasanya sepi dari kritik.
harus tertahan yang disebabkan oleh kekuatan perubahan menyangkut susunan panitia
seperti yang mereka janjikan yakni pada bulan Gagasan untuk menyelenggarakan Konferensi
43
militer yang dapat digunakan sangat terbatas pemilihan Indonesia. Langkah ini dianggap
November 1953, yang baru terlaksana pada Asia-Afrika juga memperoleh kecaman keras.
karena kekuatan TNI juga harus melakukan sebagai suatu usaha untuk mendongkrak Program ini dianggap menghambur-hamburkan
bulan kedua 1954 itupun dengan modifikasi
operasi yang sama di wilayah lain meliputi Jawa, perolehan suara partai pendukung pemerintah uang karena untuk penyelenggaraannnya
waktu selama 16 bulan hingga pelaksanaan
Kalimantan, dan Sulawesi. Pada sisi lain, hal dan di sisi lain berpotensi menggerus lumbung diperlukan biaya yang besar. Lebih dari itu,
40
pemilu. Komentar keras oposisi mulai mereda
ini menunjukan bahwa pendekatan militer yang suara pihak oposisi. Sebagai reaksi atas keputusan penyelenggaraan KAA dianggap sebagai usaha
setelah ketua PPI yang baru S. Hadikusumo
diambil pemerintah tidak mampu mengatasi tersebut, Masyumi mengarahkan massa untuk pemerintah untuk menutup-nutupi kegagalan
mengumumkan secara resmi tanggal defintif
hingga ke akar persoalan sebenarnya. Bahkan, 41 melakkan aksi demonstrasi menolak keputusan programnya terutama di bidang ekonomi dan
pelaksanaan anggota DPR dan konstituante.
Remy Madinier mengungkapkan operasi tersebut Sudiro. Tidak tinggal diam, PNI dan partai urusan politik dalam negeri. Seperti tampak
juga tidak terlalu efektif untuk melemahkan Pergantian sejumlah pejabat, terutama para lain pendukung pemerintah membalas aksi pada serangan pihak oposisi atas rencana
pemberontakan yang setelah dipukul mundur pemimpin daerah sangat membuat kubu oposisi tersebut dengan menyelenggarakan rapat umum penyelenggaraan KAA, tidak semua kritik yang
350 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 351

