Page 365 - Perdana Menteri RI Final
P. 365

dialamatkan kepada pemerintah memiliki alasan   pribumi dengan mudah mereka alihakan kepada   NU dengan melakukan sejumlah perubahan.   kali ini disampaikan oleh Mr. Jusuf Wibisono
 yang cukup dan bersifat prinsipil. Banyak pula   pengusaha Tionghoa. Oleh karenanya, lahir   Adapun perubahan komposisi anggota kabinet   dari Masyumi yang ditujukan kepada seluruh

 serangan yang kemudian direspon oleh partai-  istilah ‘pengusaha koper’ (pengusaha aktentas).   dapat  dilakukan  pada  bulan  September  1953.   kabinet. Melalui mekanisme pemungutan suara
 partai pendukung  pemerintah  dengan tensi   Situasi yang  demikian  ini kemudian populer   Melalui reshuffle kabinet itu sejumlah posisi   pemerintah kembali memenangkan dukungan
 tinggi sehingga yang terjadi adalah perdebatan   disebut dengan istilah ‘Ali-Baba’ dimana ‘Ali’   diisi orang baru, Ir. Roosseno (PIR) ditunjuk   meskipun dengan selisih yang tidak cukup
 yang  kurang  begitu  berbobot.  Akan  tetapi   merepresentasikan pengusaha pribumi, dan   menggantikan Iskaq, Mr. Soenarjo menggantikan   banyak yaitu 115 berbanding 92. Tampaknya
 tidak semua kritik dapat diabaikan begitu saja,   istilah ‘Baba’ menggambarkan pengusaha asing   Prof. Hazairin sebagai Menteri Urusan Dalam   pergantian sejumlah menteri, terutama pada
 beberapa serangan kritik dari pihak oposisi dalam   atau Tionghoa. 45  Negeri. Sedangkan, posisi Mr. Wongsonegoro   posisi Menteri Perekonomian dimana tokoh
 parlemen dapat mengena dengan sangat telak   yang memilih untuk mengundurkan diri dari   PNI digantikan oleh anggota PIR yang tidak
 Tekanan-tekanan yang dialamatkan kepada
 hingga mengakibatkan mundurnya sejumlah   jabatannya dibiarkan tidak terisi.  berpihak pada kubu manapun berperan cukup
 pemerintah membuat beberapa tokoh dalam
 menteri dalam kabinet ini, dan bahkan berbuntut               besar dalam memperbesar dukungan anggota
 koalisi berubah pikiran. Melalui rapat internal   Pada 20 Oktober 1953, anggota fraksi Masyumi,
 panjang hingga mengakibatkan perpecahan di                    parlemen terhadap pemerintah. Dari sini Nampak
 tubuh partai pendukung Ali Sastroamidjojo.   fraksi, sejumlah pimpinan partai menuntut   K.H Tjikwan, mengajukan interpelasi kepada   bahwa upaya parlementer untuk menjatuhkan
 ditariknya anggota  PIR dari susunan kabinet.   parlemen. Permasalahannya berakar pada
                                                               pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo tidak
 Serangan-serangan lebih keras dari pihak oposisi   Prof. Hazairin menjadi tokoh berpengaruh bagi   pemberian lisensi yang tidak cermat sehingga   membuahkan  hasil.  Hanya  saja,  persoalan
 yang berdampak besar terutama ditujukan kepada   kubu pengusung gagasan ini. Adapun lawannya   jatuh  kepada  pihak-pihak  yang  tidak  bonafide   lain yang tidak kalah serius muncul menjelang
 kebijakan ekonomi menteri Iskaq dan keputusan-  adalah Wongsonegoro yang saat itu menempati   dan terkesan diskriminatif. Dalam prakteknya,   berakhirnya tahun 1953, kali ini berhubungan
 keputusan  menteri  Iwa  Kusumasumantri  posisi wakil perdana menteri dalam kabinet   banyak lisensi diberikan kepada para pengusaha   dengan persoalan internal di tubuh militer.

 yang menyangkut persoalan militer. Program   Ali Sastroamidjojo. PIR terpecah menjadi dua   yang ditengarai menjadi pendukung atau
 Indonesianisasi menteri Iskaq menjadi salah   kubu yang dikena dengan PIR-Rin (Hazairin)   simpatisan  pemerintah.  Oleh  karenanya  Pada bulan November 1953, menteri pertahanan
 satu masalah yang memperoleh serangan paling   dan PIR Wong (Wongsonegoro). Kebanyakan   istilah yang muncul kemudian adalah program   Iwa Kusumasumantri mengeluarkan keputusan
 serius. Tidak dapat dipungkiri bahwa program   nasionalisasi ekonomi Indonesia dipelesetkan   untuk menghapus jabatan Kepala Staff Angkatan
 anggota parlemen merupakan pengikut PIR-Rin
 Indonesianisasi memiliki banyak kelemahan   menjadi program ekonomi nasionalis Indonesia   Perang yang saat itu dijabat oleh Mayor Jenderal
 yang dengan perpecahan ini maka 23 anggota
 dan  juga  terjadi  banyak  penyimpangan.   di DPRS dari PIR diganti dengan anggota dari   yang merujuk pada ideologi PNI sebagai partai   T.B. Simatupang. Langkah ini berbuntut
 Tampaknya kemudahan pemberian kredit oleh   fraksi-fraksi non-partai.  penguasa waktu itu. Menanggapi tuduhan   panjang dan kembali mengungkit pertentangan
 pemerintah yang semula ditujukan mendorong   tersebut partai pendukung pemerintah membalas   dalam tubuh dinas tentara di mana sebelumnya
 muncul dan menguatnya usawahan bumiputera   Tidak berselang lama, muncul pula persoalan   dengan mengatakan hal yang sama terjadi saat   telah muncul dua kubu “pro” dan “kontra” 17
 juga banyak disalahgunakan. Kemudahan   baru dari partai koalisi pemerintah lainnya yakni   Masyumi berkuasa. Pada bulan April 1954,   Oktober—peristiwa  yang membuat kabinet
 ini merangsang munculnya pengusaha baru,   NU yang mendesak pemerintah untuk melakukan   interpelasi kubu oposisi berubah menjadi mosi   sebelumnya jatuh. Dalam hal ini, Simatupang
 kebanyakan dari mereka adalah pegawai negeri   reshuffle kabinet. Melalui nota politiknya yang   tidak percaya setelah semakin banyak kabar   dikenal sebagai perwira tinggi yang ‘pro-17

 yang menginginkan gaji tambahan namun   dikeluarkan pada bulan Juli 1953, NU menuntut   yang menyatakan bahwa para penerima lisensi   Oktober’. Mosi terhadap Menteri Pertahanan
 sebelumnya tidak pernah memiliki pengalaman   pergantian tiga anggota kabinet yakni Menteri   diminta menyetorkan sejumlah uang kepada   segera dilayangkan Masyumi, meskipun setelah
 berkecimpung dalam usaha komersial. Karena   Perekonomian, Menteri Keuangan dan Menteri   PNI. Tuduhan tersebut telah dibantah langsung   pemungutan suara yang dilangsungkan pada
 minim pengalaman namun mudah memperoleh   Urusan Dalam Negeri, serta meminta pengalihan   oleh menteri Iskaq. Dalam pemungutan   Februari 1954, pihak pengusul mosi kalah
 pinjaman, mereka tidak benar-benar menjalankan   kewenangan di bidang keamanan dialihkan   suara di parlemen pemerintah memperoleh   suara. Iwa Kusumasumantri yang telah berada
 usahanya  melainkan  mengalihkannya  kepada   dari Wongsonegoro (Wakil perdana menteri I)   keunggulan  suara  yang  cukup  signifikan  yakni   pada posisi aman kembali membuat keputusan
 para  pengusaha  Tionghoa.  Demikian  pula   kepada Zainal Arifin (wakil perdana menteri II).   101 berbanding 60. Pada akhir 1954, pemerintah   yang mengundang kegusaran kelompok ‘pro-17
 lisensi impor yang dimiliki orang-orang   Ali Sastroamidjojo berhasil menangani tuntutan   kembali menghadapi mosi tidak percaya yang   Oktober’ dengan mengangkat Kolonel Zulkifli





 352  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  353
   360   361   362   363   364   365   366   367   368   369   370