Page 370 - Perdana Menteri RI Final
P. 370
yang juga sudah dikenal Ali Sastroamidjojo Sukarno bila memang tidak setuju dengan
sejak perundingan Roem-Roeijen dan sama- susunan yang telah dihasilkannya,untuk
sama diasingkan ke Bangka. Pada sisi lain, Ali menunjuk orang lain sebagai formatur..
Sastroamidjojo sendiri tidak ingin memasukan
Pertemuan pertama antara Ali Sastroamidjojo
nama-nama orang yang sebelumnya menjadi
dengan Presiden tidak menghasilkan keputusan
47
bagian dari kabinet Burhanuddin Harahap.
apakah susunan kabinet disetujui atau tidak. Di
Sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan hadapan para wartawan yang sudah menunggu
Sukarno, Ali Sastroamidjojo dan Wilopo berhasil hasil pembicaraan keduanya, Sukarno
memberikan daftar nama anggota kabinet baru. menyatakan bahwa dia masih akan memperlajari
Ali Sasatroamidjojo sendiri menjabat sebagai susunan kabinet yang diajukan oleh formatur
perdana menteri, dan oleh karena ada PNI, karena ada sejumlah nama yang belum ia kenal.
Presiden Sukarno dalam pengangkatan Mr. Ali
Masyumi, dan NU menjadi tulang punggung Ia juga menyampaikan bahwa kabinet baru
Satroamidjojo sebagai Formateur Kabinet pada
tanggal 8 Maret 1956. utama, maka wakil perdana menteri satu dan akan diumumkan paling lambat satu minggu.
dua dijabat dari perwakilan Masyumi (Moh. Tentu saja, Sukarno memberikan alasan-alasan
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Roem) dan NU (Idham Chalid). Karena Ali itu untuk menutupi ketidaksetujuannya dan
Sastroamidjojo sendiri yang membentuk kabinet berusaha untuk menjaga agar persoalan ini
ini, berbeda dengan pengangkatan pertamanya tidak memunculkan kegaduhan politik yang
sebagai perdana menteri, ia merasa percaya diri lebih besar. Dalam jangka waktu itu, Sukarno
dengan komposisi kabinet, dan dukungan politik sebenarnya melobi sejumlah petinggi partai
parlemen. Masalahnya kemudian adalah, formasi untuk bersedia mengikutsertakan PKI dalam
kabinet harus disetujui oleh Sukarno. kabinet. Sukiman (Masyumi) dan Idham Chalid
diundang untuk beraudiensi dengan presiden di
Pada 16 Maret 1956, Ali Sastroamidjojo
Istana, sedangkan untuk PNI dan PSII, presiden
menemui presiden untuk melaporkan hasil
mengundang Surijo dan Araudji Kartawinata.
kerjanya sebagai formatur. Setelah melihat
Hanya saja, usaha ini berakhir tanpa hasil.
komposisi kabinet, Sukarno merasa kecewa
karena keanggotaan kabinet yang disusun Kurang dari seminggu kemudian, pada 20
formatur tidak mengikutsertakan PKI sebagai Maret sore hari, presiden mengumumkan
salah satu partai empat besar pemenang bahwa ia akhirnya menyetujui susunan kabinet
pemilu. Sukarno beranggapan bahwa formatur yang diajukan oleh Ali Sastroamidjojo, yang
bertindak tidak adil, bagaimanapun juga, PKI tidak mengikutsertakan PKI dan juga PSI
merepresentasikan enam juta suara rakyat dalam pemerintahan yang menjadi oposisi bagi
48
yang menjadi pemilihnya. Di pihak lain, Ali pemerintah. Adapun dalam susunan terbaru
Presiden Sukarno mengumumkan kepada para
wartawan mengenai pengangkatan Mr. Ali Sastroamidjojo tetap menolak untuk mengubah kabinet ini, muncul nama Ir. Djuanda, tokoh
Satroamidjojo sebagai Formateur Kabinet pada
susunan kabinetnya karena telah menjadi non-partai yang juga orang kepercayaan Sukarno,
tanggal 8 Maret 1956.
49
kesepakatan dengan partai-partai pendukung. sebagai Menteri urusan Perencanaan negara.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Lebih lanjut, Ali Sastroamidjojo mempersilakan Sedangkan, terdapat tiga nama mantan menteri
358 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959 359

