Page 369 - Perdana Menteri RI Final
P. 369

Harahap sejak 11 Agustus 1955. Selama kurun     partai-partai yang memiliki paling tidak empat
               periode itu, bangsa Indonesia melaksanakan      suara di parlemen. Selain itu  hearing juga

               hajatan   besar   yakni    dengan    adanya     dilakukan dengan para kepala staf tiga angkatan
               penyelenggaraan pemilihan umum nasional         pada dinas militer.
               yang pertama. Atas permintaan PNI, nama
                                                               Sebagaimana    para   petinggi  PNI,    Ali
               Ali Sastroamidjojo turut dicalonkan sebagai
                                                               Sastroamidjojo   melihat   peluang    untuk
                                            46
               anggota DPR dan Konstituante.  Dalam Pemilu
                                                               membentuk  suatu  kabinet  pemerintahan  yang
               1955, PNI yang berhasil mendulang suara dari
                                                               solid dengan membangun koalisi kekuatan
               wilayah Jawa keluar sebagai pemenang dengan
                                                               nasionalis  dan  Islam.   Koalisi  semacam
               memperoleh 23% (57 kursi DPR), disusul oleh
                                                               ini dapat dibentuk dengan menggandeng
               Masyumi yang banyak memperoleh suara dari
                                                               perwakilan partai-partai yang memperoleh
               luar Jawa dengan 20% (57 kursi DPR), NU
                                                               suara terbesar dalam pemilu 1955. Karena empat
 Sidang terakhir dari kabinet Ali-Arifin tanggal 22   dengan  perolehan suara  mencapai  18,41%  (45
 Juli 1955.                                                    besar pemenang pemilu telah tampak, maka
               kursi DPR) dan PKI pada posisi keempat dengan
                                                               pembicaran penting dilakukan dengan Masyumi,
 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia  jumlah suara 16,36% (39 kursi DPR).
                                                               dan NU dimana dapat diberjalan dengan baik.

               MEMBANGUN KOALISI TANPA PKI                     Hanya saja untuk membuka kerjasama dengan
                                                               PKI ada sejumlah masalah. Selain keengganan
               Setelah enam setengah bulan memimpin
                                                               dari formatur, Masyumi juga menolak dengan
               kabinet, Burhanuddin Harahap mengembalikan
                                                               keras masuknya PKI dalam pemerintahan.
               mandatnya pada 3 Maret 1956 walaupun kabinet
                                                               Bahkan Masyumi tidak menginginkan nama-
               ini masih melakukan tugasnya sampai kabinet
                                                               nama orang yang disinyalir memiliki hubungan
               baru terbentuk. Presiden yang selanjutnya
                                                               dengan PKI meskipun belum terbukti bahwa
               melakukan  hearing dengan partai-partai yang
                                                               mereka bagian dari partai komunis itu. Secara
               memiliki kursi di parlemen. Pada 8 Maret
                                                               teoritis, jika koalisi didasarkan atas kerjasama
               1956 presiden menugaskan formatur untuk
                                                               partai tiga besar dan tanpa keikutsertaan PKI
               membentuk kabinet baru. Tanggung jawab
                                                               dalam koalisi, Ali Sastroamidjojo dan Wilopo
               sebagai formatur  untuk  membentuk  kabinet
                                                               sudah dapat membentuk kabinet yang sangat
               baru ini dilimpahkan kepada Ali Sastroamidjojo
                                                               kuat dengan dukungan parlemen. Untuk itu,
               yang memiliki waktu selama delapan hari
                                                               formatur memilih untuk tidak melibatkan PKI
               untuk menyusun “kabinet baru yang mendapat
                                                               dalam kabinet.
               dukungan yang luas”. Dalam bekerja sebagai
               formatur, Ali Sastroamidjojo didampingi oleh    Pembicaraan mulanya dilakukan antara PNI
               Wilopo atas saran dari para petinggi PNI yang   dengan NU, menyusul kemudian Masyumi
 Ali Sastroamidjojo mengembalikan mandat kepada   menganggap bahwa Wilopo merupakan tokoh   turut terlibat dengan menggunakan posisinya
 Wakil Presiden Mohammad Hatta pada tanggal 24
               yang dapat diterima dengan baik oleh kalangan   di parlemen sebagai daya tawar. Masyumi
 Juli 1955.
               Masyumi. Keduanya memulai pekerjaan sebagai     menyerahkan sejumlah nama anggotanya
 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
               formatur dengan melakukan  hearing dengan       yang sangat bereputasi seperti Moh. Roem—




 356  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  357
   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374