Page 364 - Perdana Menteri RI Final
P. 364

dialamatkan kepada pemerintah memiliki alasan   pribumi dengan mudah mereka alihakan kepada                            NU dengan melakukan sejumlah perubahan.        kali ini disampaikan oleh Mr. Jusuf Wibisono
                           yang cukup dan bersifat prinsipil. Banyak pula   pengusaha Tionghoa. Oleh karenanya, lahir                             Adapun perubahan komposisi anggota kabinet     dari Masyumi yang ditujukan kepada seluruh

                           serangan yang kemudian direspon oleh partai-   istilah ‘pengusaha koper’ (pengusaha aktentas).                         dapat  dilakukan  pada  bulan  September  1953.   kabinet. Melalui mekanisme pemungutan suara
                           partai pendukung  pemerintah  dengan tensi     Situasi yang  demikian  ini kemudian populer                            Melalui reshuffle kabinet itu sejumlah posisi   pemerintah kembali memenangkan dukungan
                           tinggi sehingga yang terjadi adalah perdebatan   disebut dengan istilah ‘Ali-Baba’ dimana ‘Ali’                        diisi orang baru, Ir. Roosseno (PIR) ditunjuk   meskipun dengan selisih yang tidak cukup
                           yang  kurang  begitu  berbobot.  Akan  tetapi   merepresentasikan pengusaha pribumi, dan                               menggantikan Iskaq, Mr. Soenarjo menggantikan   banyak yaitu 115 berbanding 92. Tampaknya
                           tidak semua kritik dapat diabaikan begitu saja,   istilah ‘Baba’ menggambarkan pengusaha asing                         Prof. Hazairin sebagai Menteri Urusan Dalam    pergantian sejumlah menteri, terutama pada
                           beberapa serangan kritik dari pihak oposisi dalam   atau Tionghoa. 45                                                  Negeri. Sedangkan, posisi Mr. Wongsonegoro     posisi Menteri Perekonomian dimana tokoh
                           parlemen dapat mengena dengan sangat telak                                                                             yang memilih untuk mengundurkan diri dari      PNI digantikan oleh anggota PIR yang tidak
                                                                          Tekanan-tekanan yang dialamatkan kepada
                           hingga mengakibatkan mundurnya sejumlah                                                                                jabatannya dibiarkan tidak terisi.             berpihak pada kubu manapun berperan cukup
                                                                          pemerintah membuat beberapa tokoh dalam
                           menteri dalam kabinet ini, dan bahkan berbuntut                                                                                                                       besar dalam memperbesar dukungan anggota
                                                                          koalisi berubah pikiran. Melalui rapat internal                         Pada 20 Oktober 1953, anggota fraksi Masyumi,
                           panjang hingga mengakibatkan perpecahan di                                                                                                                            parlemen terhadap pemerintah. Dari sini Nampak
                           tubuh partai pendukung Ali Sastroamidjojo.     fraksi, sejumlah pimpinan partai menuntut                               K.H Tjikwan, mengajukan interpelasi kepada     bahwa upaya parlementer untuk menjatuhkan
                                                                          ditariknya anggota  PIR dari susunan kabinet.                           parlemen. Permasalahannya berakar pada
                                                                                                                                                                                                 pemerintahan Kabinet Ali Sastroamidjojo tidak
                           Serangan-serangan lebih keras dari pihak oposisi   Prof. Hazairin menjadi tokoh berpengaruh bagi                       pemberian lisensi yang tidak cermat sehingga   membuahkan  hasil.  Hanya  saja,  persoalan
                           yang berdampak besar terutama ditujukan kepada   kubu pengusung gagasan ini. Adapun lawannya                           jatuh  kepada  pihak-pihak  yang  tidak  bonafide   lain yang tidak kalah serius muncul menjelang
                           kebijakan ekonomi menteri Iskaq dan keputusan-  adalah Wongsonegoro yang saat itu menempati                            dan terkesan diskriminatif. Dalam prakteknya,   berakhirnya tahun 1953, kali ini berhubungan
                           keputusan  menteri   Iwa   Kusumasumantri      posisi wakil perdana menteri dalam kabinet                              banyak lisensi diberikan kepada para pengusaha   dengan persoalan internal di tubuh militer.

                           yang menyangkut persoalan militer. Program     Ali Sastroamidjojo. PIR terpecah menjadi dua                            yang ditengarai menjadi pendukung atau
                           Indonesianisasi menteri Iskaq menjadi salah    kubu yang dikena dengan PIR-Rin (Hazairin)                              simpatisan  pemerintah.   Oleh    karenanya    Pada bulan November 1953, menteri pertahanan
                           satu masalah yang memperoleh serangan paling   dan PIR Wong (Wongsonegoro). Kebanyakan                                 istilah yang muncul kemudian adalah program    Iwa Kusumasumantri mengeluarkan keputusan
                           serius. Tidak dapat dipungkiri bahwa program                                                                           nasionalisasi ekonomi Indonesia dipelesetkan   untuk menghapus jabatan Kepala Staff Angkatan
                                                                          anggota parlemen merupakan pengikut PIR-Rin
                           Indonesianisasi memiliki banyak kelemahan                                                                              menjadi program ekonomi nasionalis Indonesia   Perang yang saat itu dijabat oleh Mayor Jenderal
                                                                          yang dengan perpecahan ini maka 23 anggota
                           dan  juga  terjadi  banyak  penyimpangan.      di DPRS dari PIR diganti dengan anggota dari                            yang merujuk pada ideologi PNI sebagai partai   T.B. Simatupang. Langkah ini berbuntut
                           Tampaknya kemudahan pemberian kredit oleh      fraksi-fraksi non-partai.                                               penguasa waktu itu. Menanggapi tuduhan         panjang dan kembali mengungkit pertentangan
                           pemerintah yang semula ditujukan mendorong                                                                             tersebut partai pendukung pemerintah membalas   dalam tubuh dinas tentara di mana sebelumnya
                           muncul dan menguatnya usawahan bumiputera      Tidak berselang lama, muncul pula persoalan                             dengan mengatakan hal yang sama terjadi saat   telah muncul dua kubu “pro” dan “kontra” 17
                           juga banyak disalahgunakan. Kemudahan          baru dari partai koalisi pemerintah lainnya yakni                       Masyumi berkuasa. Pada bulan April 1954,       Oktober—peristiwa  yang membuat kabinet
                           ini merangsang munculnya pengusaha baru,       NU yang mendesak pemerintah untuk melakukan                             interpelasi kubu oposisi berubah menjadi mosi   sebelumnya jatuh. Dalam hal ini, Simatupang
                           kebanyakan dari mereka adalah pegawai negeri   reshuffle kabinet. Melalui nota politiknya yang                         tidak percaya setelah semakin banyak kabar     dikenal sebagai perwira tinggi yang ‘pro-17

                           yang menginginkan gaji tambahan namun          dikeluarkan pada bulan Juli 1953, NU menuntut                           yang menyatakan bahwa para penerima lisensi    Oktober’. Mosi terhadap Menteri Pertahanan
                           sebelumnya tidak pernah memiliki pengalaman    pergantian tiga anggota kabinet yakni Menteri                           diminta menyetorkan sejumlah uang kepada       segera dilayangkan Masyumi, meskipun setelah
                           berkecimpung dalam usaha komersial. Karena     Perekonomian, Menteri Keuangan dan Menteri                              PNI. Tuduhan tersebut telah dibantah langsung   pemungutan suara yang dilangsungkan pada
                           minim pengalaman namun mudah memperoleh        Urusan Dalam Negeri, serta meminta pengalihan                           oleh menteri Iskaq. Dalam pemungutan           Februari 1954, pihak pengusul mosi kalah
                           pinjaman, mereka tidak benar-benar menjalankan   kewenangan di bidang keamanan dialihkan                               suara di parlemen pemerintah memperoleh        suara. Iwa Kusumasumantri yang telah berada
                           usahanya  melainkan  mengalihkannya  kepada    dari Wongsonegoro (Wakil perdana menteri I)                             keunggulan  suara  yang  cukup  signifikan  yakni   pada posisi aman kembali membuat keputusan
                           para  pengusaha  Tionghoa.  Demikian  pula     kepada Zainal Arifin (wakil perdana menteri II).                        101 berbanding 60. Pada akhir 1954, pemerintah   yang mengundang kegusaran kelompok ‘pro-17
                           lisensi impor yang dimiliki orang-orang        Ali Sastroamidjojo berhasil menangani tuntutan                          kembali menghadapi mosi tidak percaya yang     Oktober’ dengan mengangkat Kolonel Zulkifli





                           352   PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959                                                                                                                  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  353
   359   360   361   362   363   364   365   366   367   368   369