Page 359 - Perdana Menteri RI Final
P. 359

melakukan restorasi dan perluasan produksi yang   Pelaksanaan Indonesianisasi ekonomi menurut   untuk harga textil masih terbilang tinggi   gangguan keamanan. Tugas pemerintahan Ali
 didasarkan pada pertimbangan akan kebutuhan   Ali Sastroamidjojo berlangsung sangat pesat   namun tetap terbeli. 27  Sastroamidjojo dalam hal ini ialah melakukan

 stabilitas keuangan, kebijakan kabinet Ali   yang oleh sebab itu pula tidak dapat dijalankan   persiapan yang matang  dengan  perhitungan
               Pada bidang politik dalam negeri, kabinet Ali
 23
 Sastroamidjojo ditujukan untuk mendorong   dengan teliti.  Meskipun demikian, banyak   terperinci yang dimulai sejak Januari 1954 dengan
               Sastroamidjojo berhasil mengawal tahapan
 keunggulan atas ekspansi produksi dan stabilitas   perkembangan yang berlangsung semenjak   perkiraan pemilu dapat dilaksanakan 16 bulan
               persiapan   dari   penyelenggaraan   pemilu
 19
 harga.  Menteri Iskaq mencangkan program   program menteri Iskaq ini dijalankan. Selama satu   kemudian. Walaupun seolah banyak terlupakan,
               nasional yang berlangsung pada 1955 di
 Indonesianisasi ekonomi dengan semboyan ‘dari   tahun pelaksanaannya, terlihat bahwa program   peran penting pemerintahan Ali Sastroamidjojo
               bawah pemerintahan Kabinet Burhanuddin
 ini  berhasil  mengakselarasi  jumlah  perusahaan             dalam mensukseskan Pemilu 1955 yang berbiaya
 ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional’.
               Harahap. Terkait dengan penyelenggaraan
 impor pribumi yang pada akhir tahun 1950                      Rp 479.891.729, terutama untuk menggarap
 Adapun langkah yang diterapkan oleh Menteri
               pemilu, pada dasarnya, kabinet Wilopo telah
 berjumlah sekitar 250, menjadi paling tidak 2.000             tahap persiapan, sangat besar. Misalnya untuk
 Perekonomian ini dianggap mengarah pada
 24
 banyaknya pada November 1954.  Demikian   berhasil menyelesaikan peraturan perundang-  persoalan teknis mencetak surat suara dan
 suatu bentuk proteksionisme yang langsung
               undangan no. 7 tahun 1953 yang menjadi
 pula selama Ali Sasatoamidjojo menjabat perdana               dokumen laininya saja ternyata memakan tenaga
 memperoleh respon keras dari kolega sesama
 menteri, terjadi peningkatan jumlah bank swasta   dasar penyelenggaraan pemilu 1955. Tugas   dan waktu yang sangat besar, bahkan untuk
 anggota  kabinet  yakni  Menteri  Keuangan,
 nasional yang pada pertengahan 1953 sejumlah   kabinet Ali Sastroamidjojo kemudian adalah   melaukukan proses cetak, Percetakan Negara
 Ong Eng Die, dan Gubernur Bank Indonesia,
 20 buah meningkat pesat hingga angka 75 buah   untuk mengurus persoalan teknis yang menjadi   harus  dibantu  21  percetakan swasta  di  Jakarta
 Sjafruddin Prawiranegara. 20
 25
 pada  November  1984.   Hal ini  dapat  terjadi   operasionalisasi dari peraturan tersebut. Tidak   yang bekerja siang malam dengan penjagaan
               dapat dipungkiri bahwa sebelumnya telah
 Meskipun menemui sejumlah masalah, program   karena adanya kemudahan pemberian kredit dari   dari aparat keamanan. Mereka harus mencetak
 Indonesianisasi ekonomi berhasil menumbuhkan   Bank Indonesia. Contoh lain dari perkembangan   dihelat sejumlah pemilu lokal yang dapat dikatan   sebanyak 1.948.000 daftar pemilih tetap, dan
 semangat wirausaha di kalangan pribumi. Tanpa   positif yang berkaitan dengan pemberian kredit   sebagai langkah pemetaan seperti yang digelar   96.000.000 surat suara dan dokumen lainnya
 mengingkari bahwa Indonesianisasi ekonomi   oleh bank-bank pemerintah ditunjukan dengan   di Yogyakarta (1951), Minahasa, Sangihe Talaut   dengan menghabiskan 2.250 ton kertas. Untuk
 berlawanan dengan interdependensi ekonomi,   semakin berkembangnya perusahaan perkapalan   (1951) dan kotapraja Makasar (1952). Sejumlah   pembuatan peti suara, proses pengepakan serta
 swasta  nasional  yang  tumbuh  pesat  hingga   pemilu pada tingkat lokal tersebut dilakukan   distribusi ke berbagai daerah dibutuhkan biaya
 Ali  Sastroamidjojo  menganggap  semangat
 mencapai jumlah 65 perusahaan kapal swasta   dengan menggunakan sistem bertingkat maupun   tidak kurang dari lima juta rupiah. Keseluruhan
 nasionalisme ekonomi—yang berpandangan
                        28
 nasional pada 1955. 26  langsung.  Hanya saja, permasalahan teknis   dari proses ini memang baru selesai beberapa saat
 bahwa bidang ekonomi harus dipegang oleh
               penyelenggaraan pemilu di tingkat nasional      setelah Ali Sastroamidjojo mundur, namun telah
 bangsa sendiri—sangat penting untuk dimiliki
 Perbaikan  juga  tampak  pada  bidang  tentu lebih rumit.     dimulai jauh-jauh hari ketika ia masih menjabat.
 bangsa Indonesia guna mentransisikan struktur
 pertanian. Jumlah produksi beras Indonesia
 ekonomi kolonial ke nasional. Bagi Ali
 selama dua tahun masa kepemimpinan Ali   Selain  itu,  tantangan  besar  dalam  Salah  satu  langkah  awal  terpenting—namun
 Sastroamidjojo dengan meneruskan struktur
 Sastroamidjojo meningkat, hanya saja karena   penyelenggaraan  Pemilu  nasional  adalah  juga menuai kontroversi—yang dilakukan Ali
 kolonial dimana ekonomi dipegang dan dikuasai   kenyataan bahwa untuk perhelatan pesta akbar
 terkendala bencana seperti banjir, usaha                      Sastroamidjojo adalah menggerakan Panitia
 oleh para kapitalis asing sama artinya dengan   demokrasi ini akan dilenggarakan untuk
 untuk swasembada belum tercapai. Dengan                       Pemilihan Indonesia (PPI) yang sebenarnya
 menghilangkan kemerdekaan bangsa Indonesia   peningkatan produksi beras, pemerintah   kali pertama dalam situasi kemanan dan   telah terbentuk sejak kabinet Wilopo namun
 21
 dalam bidang ekonomi.  Salah satu hasil   dapat melakukan stabilisasi harga beras yang   ketertiban yang belum begitu stabil. Bahkan,   tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik
 yang dapat dilihat dari kebijakan ini adalah   besarnya Rp.1.85,- per liter untuk daerah-  banyak pihak yang pesimis bahwa pemilu akan   karena  tidak  adanya  kesepakatan  soal  susunan
 meningkatnya nilai ekspor komoditas tertentu,   daerah, dan Rp.2.85,- khusus untuk wilayah   dapat  diselenggarakan  secara  lancar.  Mereka   anggota.  Untuk  mengatasi  hal  itu,  ketua  PPI
 utamanya adalah karet rakyat dan minyak bumi,   ibukota. Stabilisasi harga beras ini sangat   memperkirakan bahwa pemilu akan banyak   yakni  M.  Asaat  (non-partai)  digantikan  oleh
 terutama  dikarenakan  keberhasilan  pemerintah   berpengaruh dalam mengendalikan harga   memakan korban jiwa karena akan menjadi ajang   S. Hadikusumo dari PNI. Kepengurusan PPI
 untuk mendatangkan investor. 22  berbagai kebutuhan pokok lainnya, walaupun   bagi eskalasi konflik antar kelopok, juga karena   yang baru, didasarkan atas Keputusan Presiden





 346  PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959           PERDANA MENTERI REPUBLIK INDONESIA 1945 - 1959  347
   354   355   356   357   358   359   360   361   362   363   364